Jelang 125 Tahun Soekarno, Pemerintah Rusia: Bung Karno Tanamkan Fondasi Hubungan RI-Rusia

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET | Kedubes Rusia berencana memperingati 125 tahun kelahiran Presiden Pertama Republik Indonesia Soekarno melalui berbagai kegiatan khusus, termasuk penerbitan tulisan mengenai sejarah dan hubungan Bung Karno dengan Rusia.

Rencana tersebut disampaikan Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov saat bertemu Presiden Ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri di kediamannya di Menteng, Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Menurut Tolchenov, Bung Karno merupakan tokoh penting yang meletakkan fondasi hubungan erat Indonesia dan Rusia sejak era Uni Soviet.

“Kami ingin memperingati 125 tahun Bapak Soekarno. Beliau lahir 6 Juni 1901 dan tahun ini bertepatan dengan yubileum 125 tahun Bung Karno. Kedutaan Rusia akan menerbitkan tulisan tentang Bung Karno dan meminta Ibu Megawati ikut memberikan kontribusi,” ujar Tolchenov.

Megawati menyambut baik gagasan tersebut. Ia mengatakan PDIP juga akan menyelenggarakan rangkaian kegiatan Bulan Bung Karno pada Juni mendatang.

Dalam dialog yang berlangsung hangat, Megawati mengenang kedekatan hubungan keluarganya dengan para pemimpin Uni Soviet hingga Rusia. Ia menyebut mengenal sejumlah tokoh seperti Kliment Voroshilov, Nikita Khrushchev, hingga Presiden Rusia Vladimir Putin.

Megawati mengungkapkan dirinya telah mengenal Putin sejak masih bertugas di Pemerintah Kota St. Petersburg ketika dirinya menjadi anggota DPR RI.

“Sampaikan salam hangat saya kepada Presiden Putin,” kata Megawati.

Megawati juga mengenang kunjungannya ke Rusia saat menjabat Presiden RI untuk membeli alat utama sistem persenjataan (alutsista), termasuk pesawat tempur Sukhoi.

Menurut Megawati, saat itu Indonesia berada dalam kondisi ekonomi sulit sehingga dirinya mengambil langkah terobosan dengan melakukan transaksi langsung menggunakan mata uang rubel dan skema barter komoditas.

“Saya bilang waktu itu tidak punya uang dan tidak mau konversi ke dolar AS, tapi langsung ke rubel. Karena uangnya tidak cukup, kami tawarkan barter dengan komoditas seperti kedelai dan lainnya. Akhirnya tercapai kesepakatan,” ungkap Megawati.

Megawati juga mempertanyakan mengapa perdagangan internasional Indonesia masih sangat bergantung pada dolar AS. Menurut dia, transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal dapat membuka peluang kerja sama lebih luas dengan negara-negara besar.

Exit mobile version