Ketika kampus dijinakkan, masyarakat sipil dilemahkan, media ditekan secara halus, atau birokrasi dipenuhi loyalitas personal dibanding meritokrasi, maka negara sebenarnya sedang kehilangan sensor koreksi internalnya sendiri.
Karena itu, pelajaran dari Soekarno dan Soeharto bukan sekadar soal siapa jatuh dan kapan jatuh. Pelajaran utamanya adalah bahwa kekuasaan yang terlalu percaya diri sering gagal membaca akumulasi masalah kecil yang perlahan berubah menjadi krisis legitimasi besar.
Indonesia hari ini menghadapi tantangan berbeda dibanding 1965 atau 1998, tetapi pola ancamannya memiliki kemiripan. Tekanan ekonomi, ketidakpercayaan publik terhadap institusi, polarisasi sosial, persepsi konflik kepentingan elite, hingga ketegangan antara pencitraan dan realitas lapangan.
Semua itu mungkin terlihat terkendali selama mesin negara masih kuat. Tetapi sejarah Indonesia menunjukkan bahwa keruntuhan politik sering tampak mustahil sampai akhirnya benar-benar terjadi.
Karena itu, pesan terpenting kepada Presiden Prabowo bukanlah ancaman politik, melainkan pengingat sejarah.
Jangan pernah menganggap kekuasaan kebal terhadap hukum sejarah. Negara yang kuat bukan negara yang membungkam kritik, melainkan negara yang mampu memperbaiki diri sebelum krisis membesar.
Sejarah tidak ditulis agar manusia hidup dalam ketakutan terhadap masa lalu. Sejarah ditulis agar manusia memiliki kebijaksanaan untuk tidak mengulang kesalahan yang sama.
Terimakasih
