Menolak Maklum! Alasan Mengapa Logika ‘Tergantung Sudut Pandang’ Bisa Merusak Tatanan Moral

Kata-kata Medsos viral

SEKILAS, kata-kata dalam video tersebut terlihat sangat puitis, bijak, dan membuat kita merenung.

Narasi semacam ini sering kali dianggap sebagai bentuk kedewasaan berpikir karena mencoba melihat segala sesuatu dari berbagai sisi.

Namun, jika dibedah secara logika dan filsafat, argumen di gambar tersebut terjebak dalam Relativisme Moral Ekstrem dan Sesat Pikir.

Mengapa “Semua Tergantung Sudut Pandang” Adalah Jebakan Logika yang Berbahaya

Kalimat-kalimat romantis yang menyatakan bahwa “tidak ada yang baik atau buruk secara mutlak” sering kali laris manis di media sosial.

Tulisan video tersebut mencoba meyakinkan kita bahwa kebenaran itu sepenuhnya subjektif, hanya persoalan perspektif.

Namun, mari kita preteli satu per satu mengapa logika dalam video ini sebenarnya cacat dan tidak bisa diterapkan dalam kehidupan nyata.

1. Menyamakan Insting Hewan dengan Moralitas Manusia

Kutipan Video: “Tikus tak berpikir dirinya mencuri, lalat tak berpikir dirinya kotor…

Ini adalah sesat pikir (menyamakan dua hal yang tidak setara). Tikus, lalat, dan lebah tidak memiliki kesadaran moral.

Mereka bergerak murni berdasarkan insting bertahan hidup. Tikus tidak merasa mencuri karena mereka tidak memiliki konsep kepemilikan hukum.

Manusia berbeda. Manusia dibekali akal budi, kesadaran, dan nurani. Menggunakan standar moral hewan yang tidak berakal untuk membenarkan relativitas moral manusia adalah sebuah kemunduran berpikir.

Kita tidak bisa merampok bank lalu membela diri dengan mengatakan, “Harimau saja kalau berburu rusa tidak pernah merasa bersalah.”

2. Mencampuradukkan “Utilitas” dengan “Moralitas”

Kutipan Video: “Hujan yang sama membuat petani bersyukur, tapi membuat tukang ojek mengeluh.”

Contoh hujan ini sama sekali tidak membuktikan bahwa “benar dan salah itu relatif”. Hujan adalah fenomena alam yang netral. Perbedaan respons petani dan tukang ojek bukanlah perdebatan moral benar vs salah, melainkan masalah utilitas manfaat dan kenyamanan.

Sesuatu yang tidak nyaman bagi Anda, bukan berarti secara moral “salah” atau “buruk”. Menyamakan preferensi pribadi dengan nilai kebajikan adalah kesalahan logika yang fatal.

Exit mobile version