“Kampus tidak hanya mengkritisi saja, tapi kita juga harus bisa memberi contoh,” urainya.
Dalam hal ini, Unej merasa memiliki modal akademik yang kuat dan mumpuni karena didukung oleh keberadaan Program Studi Gizi di bawah Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) serta Fakultas Teknologi Pertanian yang linier dengan program pemenuhan gizi.
Di samping itu, kampus juga telah memiliki rekam jejak dalam mengelola kantin sehat yang berbasis standar higienitas dan keamanan pangan di lingkungan internal.
Kajian Anggaran dan Konstruksi Fisik Baru Bisa Berjalan Tahun Depan
Proses kajian intensif yang mencakup tata kelola, kebutuhan anggaran, hingga kesiapan fasilitas pendukung ini ditargetkan dapat rampung sebelum akhir tahun 2026.
“Nanti harapannya sebelum TW 4 (triwulan 4) kita sudah punya gambaran utuh,” ungkap Bambang.
Namun, Bambang mengisyaratkan bahwa pembangunan fisik untuk fasilitas SPPG dipastikan belum memungkinkan untuk dieksekusi pada tahun ini, sekalipun hasil kajiannya telah disepakati bersama. Hal ini dikarenakan pos anggaran belanja kampus tahun berjalan sudah ditetapkan dan sedang mengalami efisiensi.
Apabila surat penugasan resmi dari BGN diterbitkan dalam waktu dekat, maka implementasi fisik paling cepat baru bisa direalisasikan pada tahun anggaran berikutnya. Hal ini mengingat besarnya skala modal yang dibutuhkan untuk investasi awal program tersebut.
“Karena investasi MBG ini tidak kecil, antara Rp 1 miliar sampai Rp 2 miliar untuk pembangunan SPPG-nya,” pungkas Bambang.
Baca Juga: Ratusan Kali Dievaluasi, Keracunan MBG Tetap Tidak Berhenti
