Akselerasi NZE 2060, Pertamina Geber Transisi Energi Terintegrasi di Seluruh Sektor Transportasi

Per 1 Juli 2026, PT Pertamina (Persero) resmi menurunkan harga tiga jenis BBM non-subsidi, yaitu Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex./Dok. Pertamina

FAKTANASIONAL.NET — PT Pertamina (Persero) terus mempercepat pengembangan ekosistem energi dan mobilitas berkelanjutan di Indonesia. Langkah ini diwujudkan melalui berbagai inisiatif transisi energi yang terintegrasi di seluruh lini sektor transportasi nasional, mulai dari darat, laut, hingga udara.

Komitmen kuat untuk mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada tahun 2060 tersebut ditegaskan oleh Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono, dalam acara Studium Generale Sustainability di Universitas Pertamina, Jakarta, Kamis (21/5/2026).

“Seluruh upaya ini kami arahkan untuk mendukung pencapaian target Net Zero Emission Indonesia pada tahun 2060, sebagaimana menjadi komitmen kuat Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto,” ujar Agung.

Baca Juga: Pertalite Tembus Rp 25 Ribu Per Liter di Amfoang NTT, Pertamina Buka Suara: Jalur Bus Umum Sempat Terhenti

Agung memaparkan, di sektor transportasi darat, Pertamina tidak hanya fokus memperkuat ekosistem kendaraan listrik (EV) melalui pembangunan charging station dan battery swapping bersama Indonesia Battery Corporation (IBC). Perusahaan juga tengah membangun pabrik bioetanol terintegrasi di Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur, yang menyatu dengan kawasan perkebunan tebu lokal untuk menjamin pasokan bahan baku secara berkelanjutan.

Sementara di sektor transportasi laut, Pertamina mendorong efisiensi energi armada kapal melalui pemanfaatan dual fuel, pengembangan green ammonia, hingga inovasi pemasangan panel surya di dek kapal untuk memenuhi kebutuhan kelistrikan secara mandiri.

Untuk sektor penerbangan, Pertamina melalui Pelita Air telah mendukung penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF). Bahan bakar ramah lingkungan ini memanfaatkan minyak jelantah (used cooking oil) sebagai solusi konkret pengurangan emisi karbon di industri aviasi global.

Exit mobile version