Kapusjianmar Seskoal: Konflik Iran-Israel Bergeser ke ‘Quantum Warfare’, Masa Depan Perang Ditentukan Algoritma

Pentingnya Indonesia membangun kedaulatan digital dan kedaulatan data guna menghadapi era 'quantum warfare' yang kini mulai diadopsi dalam konflik global./Scsht Instagram.

FAKTANASIONAL.NET — Eskalasi ketegangan antara Iran melawan Israel yang didukung Amerika Serikat beserta sekutunya dinilai telah mengalami transformasi radikal. Konflik yang semula bersifat konvensional kini bergeser menjadi peperangan multidomain yang kompleks, tak terlihat, dan berbasis teknologi tinggi (high-tech).

Analisis tersebut dipaparkan oleh Kepala Pusat Pengkajian Maritim Sekolah Staf dan Komando TNI AL (Pusjianmar Seskoal), Laksma TNI Salim, M.Phil, di Jakarta pada Kamis malam (28/5/2026).

According to Salim, evolusi konflik global ini dapat dipetakan melalui tiga fase utama: asymmetric warfare (peperangan asimetris), hybrid warfare (peperangan hibrida), dan kini memasuki quantum warfare (peperangan kuantum).

“Asymmetric warfare adalah bentuk peperangan ketika pihak yang lebih lemah menggunakan strategi non-konvensional untuk menghadapi kekuatan militer yang lebih superior. Karakter peperangan ini antara lain; gerilya, teroris, insurgency, serangan hit and run atau dengan cara lain jangan menyerang kekuatan lawan serang kelemahannya. Contohnya Perang Vietnam, Taliban melawan AS, ISIS dan Piracy di Somalia,” jelas Salim.

Baca Juga: TNI Diterjunkan Buru Begal Melalui Operasi Militer Selain Perang, Kemhan: Penguatan Kehadiran Negara

Lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) tahun 1995 ini melanjutkan, fase kedua yaitu hybrid warfare muncul saat konflik tidak lagi murni mengandalkan moncong senjata militer, melainkan mengombinasikan seluruh instrumen kekuatan nasional.

“Karakter dalam peperangan ini antara lain cyber warfare, information warfare, economic coercion, maritime militia, lawfare, proxy conflict, disinformasi dan artificial intelligence surveillance. Tujuan utamanya adalah menciptakan dominasi tanpa perang terbuka. Contohnya; operasi hibrid yang dilakukan Rusia, Grey zone di Laut China Selatan, Serangan siber terhadap infrastruktur dan tekanan terhadap ekonomi dan teknologi,” beber pakar yang juga penulis buku ‘Basic Knowledge of Cyber Security’ tersebut.

Memasuki Era Dominasi Cerdas dan Tak Terlihat

Lebih jauh, Salim memperingatkan bahwa dunia saat ini sedang menapak ke fase masa depan yang dinamakan quantum warfare. Pada era ini, medan pertempuran bertumpu pada keunggulan komputasi kuantum, kecerdasan buatan (AI), sistem otonom, hingga perang kognitif.

Karakteristiknya mencakup AI-driven battlefield, quantum communication, quantum radar, autonomous swarm, senjata hipersonik, hingga predictive warfare.

“Fase kita saat ini juga memasuki era dominasi cerdas dan tak terlihat atau quantum warfare fase masa depan dengan peperangan berbasis antara lain quantum computing, artificial intelligence, autonomous systems, cyber-physical integration, cognitive warfare, dominasi ruang angkasa, dan autonomous underwater warfare,” tambahnya.

Atas dasar perkembangan tersebut, Salim menarik kesimpulan penting mengenai peta kekuatan global yang baru.

Exit mobile version