Sejalan dengan semangat yang digaungkan dalam lagu tersebut, Ketua Umum PDI Perjuangan, Prof.Dr. Megawati Soekarnoputri, kerap menekankan secara tegas kepada seluruh kader, mulai dari tingkat pusat hingga daerah, bahwa kewajiban utama seorang kader adalah “turun ke bawah” dan menyatu dengan rakyat.
Megawati selalu mengingatkan bahwa senjata paling hebat bagi seorang pemimpin yang diusung oleh PDI Perjuangan bukanlah sekadar strategi elektoral atau pencitraan, melainkan kedekatan yang tulus dan kerja nyata di tengah denyut nadi kehidupan rakyat. Kader harus mampu menunjukkan kapasitas dan keberpihakan partai dalam memecahkan masalah rakyat secara konkret.
Selain makna ideologisnya, lagu ini juga membawa kembali ingatan akan sejarah lahirnya istilah “Marhaenisme” yang dicetuskan Bung Karno di tanah Priangan pada tahun 1920-an.
Kisah bermula saat Bung Karno sedang berjalan-jalan di kawasan pinggiran Bandung. Di sana, beliau bertemu dengan seorang petani penggarap tanah milik sendiri yang sedang mencangkul di sawahnya. Petani itu mengenakan pakaian sederhana, tampak lelah namun tetap bekerja dengan gigih. Bung Karno kemudian menyapa dan menanyakan banyak hal kepada petani tersebut. Saat ditanya siapa namanya, petani itu menjawab, “Nama saya Marhaen.”
Bung Karno pun terkesan dengan kesederhanaan dan kemandirian petani tersebut. Meskipun memiliki alat produksi sendiri (tanah dan cangkul), ia tetap hidup dalam kemiskinan karena sistem kolonial yang menindas.
Bung Karno kemudian mengabadikan nama “Marhaen” sebagai simbol bagi rakyat kecil di Indonesia yang tertindas oleh sistem, namun memiliki kekuatan besar untuk bangkit. Sejak saat itu, Marhaenisme menjadi nafas perjuangan Bung Karno dalam membebaskan rakyat dari belenggu kolonialisme dan kapitalisme.
Upacara pembukaan Pembekalan dan Bimbingan Teknis Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD tingkat provinsi/kabupaten/kota se-Indonesia itu dipimpin oleh Djarot. Tampak hadir sejumlah jajaran DPP PDIP seperti Andreas Hugo Pareira, Ribka Tjiptaning, Wiryanto Sukamdani, Darmadi Durianto, Yoseph Aryo Adhi Dharmo, Yuke Yurike, dan Sri Rahayu. Lebih dari 600 orang peserta hadir dari seluruh Indonesia.
