FAKTANASIONAL.NET – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara tegas membantah rumor pengunduran dirinya dari kabinet dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta pada Jumat (5/6/2026).
Bendahara negara tersebut memastikan akan tetap melanjutkan jabatannya sesuai dengan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
“Kami ikut perintah Bapak Presiden. Jadi, komitmennya kuat, maju terus. Mundur juga maju kita,” kelakar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Juni 2026 di Jakarta, Jumat.
Purbaya mempertanyakan secara langsung asal muasal isu liar yang menyebutkan bahwa dirinya akan segera mundur dari kursi kementerian.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa berasumsi bahwa rumor tersebut sengaja disebarkan oleh pihak tertentu untuk memengaruhi sentimen pasar keuangan domestik.
Dirinya menegaskan bahwa saat ini otoritas fiskal masih terus menjalankan tugas dan tanggung jawab harian seperti biasa tanpa adanya gangguan.
Rumor pengunduran diri tersebut mulai beredar luas usai dirinya menghadiri Rapat Paripurna terkait revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan di Jakarta pada Kamis (4/6/2026).
Dalam rapat di gedung dewan perwakilan rakyat tersebut Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa juga mengikuti agenda penyampaian pandangan tiap fraksi terhadap Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal.
Saat ditemui oleh wartawan usai rapat tersebut Purbaya menuturkan bahwa pemerintah akan merilis data realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara hingga akhir Mei 2026.
Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara per Mei 2026 tercatat sebesar Rp180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap produk domestik bruto.
Realisasi pendapatan negara telah terhimpun sebesar Rp1.185 triliun atau setara 37,6 persen dari total target anggaran senilai Rp3.153,6 triliun.
Angka realisasi pendapatan negara tersebut menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 19,1 persen secara tahunan.
Sementara itu dari sisi belanja negara realisasi per Mei 2026 tercatat mencapai Rp1.365,4 triliun atau setara 35,5 persen dari target sebesar Rp3.842,7 triliun.
Capaian serapan belanja negara hingga bulan kelima tahun ini berhasil tumbuh secara signifikan sebesar 34,4 persen secara tahunan.
Kinerja positif tersebut membuat keseimbangan primer mencetak surplus sebesar Rp58,6 triliun yang mengindikasikan ketahanan fiskal nasional masih cukup memadai.
Kondisi fiskal yang tangguh ini sangat krusial untuk memastikan tata kelola pendapatan belanja maupun utang negara dapat terus berjalan dengan aman.
