Aristoteles: Keadilan

Aristoteles: Keadilan

MEMBINCANGKAN keadilan melalui kacamata Aristoteles tidak bisa dilepaskan dari konsep pengorbanan, tujuan hidup, dan bagaimana manusia memfungsikan akalnya.

Dari naskah tersebut, Aristoteles tidak melihat keadilan sekadar sebagai hukum yang tertulis di atas kertas atau pembagian daging kurban semata, melainkan sebagai bentuk tertinggi dari keselarasan jiwa.

1. Realisme: Keadilan Berpijak pada Realitas

Berbeda dengan gurunya, Plato, yang menunjuk ke “atas” (idealisme/dunia ide), Aristoteles menunjuk ke “bawah” (realisme). Baginya, keadilan bukanlah konsep abstrak yang tiba-tiba turun dari langit atau sekadar ada di awang-awang. Keadilan harus dialami, dipraktikkan, dan ditemukan dalam keseharian.

Manusia memahami apa itu “adil” dari pengalamannya melihat ketidakadilan, dari interaksi sosial, dan dari kebiasaan sehari-hari. Pengetahuan moral ini dikumpulkan melalui observasi atas tindakan manusia yang nyata di masyarakat.

2. Telos dan Eudaimonia (Tujuan dan Kebahagiaan)

Untuk memahami keadilan, kita harus paham cara berpikir Teleologis (berbasis tujuan). Aristoteles meyakini bahwa segala sesuatu di alam semesta ini memiliki telos atau tujuan akhir.

Tujuan Akhir Manusia: Semua tindakan manusia, pada puncaknya, bermuara pada pencarian Eudaimonia (kebahagiaan sejati).

Ilusi Kebahagiaan: Socrates, Plato, dan Aristoteles sepakat bahwa kebahagiaan sejati bukanlah kesenangan (yang juga bisa dirasakan hewan), bukan kehormatan (yang bergantung pada validasi orang lain), dan bukan pula kekayaan (yang hanya sekadar alat, bukan tujuan akhir).

Keadilan sebagai Jalan Bahagia: Kebahagiaan yang hakiki tercapai ketika jiwa manusia selaras dengan kebajikan. Keadilan adalah bentuk kebajikan yang memastikan jiwa seseorang berada dalam harmoni, baik dengan dirinya sendiri maupun dengan lingkungan sosialnya.

3. Akal sebagai Instrumen Keadilan (Animal Rationale)

Setiap entitas memiliki fungsi spesifiknya. Fungsi utama manusia yang membedakannya dari makhluk lain bukanlah sekadar makan atau bernapas, melainkan akal (kemampuan berpikir rasional).

Manusia adalah animal rationale (binatang yang berpikir).

Exit mobile version