Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari: Introspeksi Diri

Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari: Introspeksi Diri

Padahal, dalam tradisi tasawuf, kemampuan luar biasa bukanlah tujuan.

Bahkan, para sufi sering memandang karamah sebagai ujian. Semakin tinggi pengalaman spiritual seseorang, semakin besar pula godaan untuk merasa lebih istimewa daripada orang lain.

Kesombongan spiritual justru menjadi penghalang terbesar menuju Allah.

Karena itulah Syekh Muhammad Arsyad tidak menganjurkan masyarakat awam untuk langsung mempelajari ajaran-ajaran tasawuf yang sangat filosofis. Beliau lebih memilih membimbing umat secara bertahap sesuai kemampuan mereka.

Sikap ini menunjukkan kebijaksanaan seorang pendidik.

Beliau memahami bahwa setiap ilmu memiliki tingkatannya masing-masing. Sebagaimana seseorang tidak langsung belajar kalkulus sebelum menguasai aritmetika, demikian pula perjalanan tasawuf tidak dapat dimulai dari pembahasan yang paling rumit.

Pondasi akhlak harus dibangun lebih dahulu.

Selain itu, Syekh Muhammad Arsyad juga mengajarkan pentingnya mengenali diri sendiri.

Menurut beliau, kesombongan lahir karena manusia lupa terhadap asal-usulnya. Ketika seseorang memahami bahwa dirinya hanyalah makhluk yang diciptakan Allah dan suatu saat akan kembali kepada-Nya, maka kesombongan perlahan akan runtuh.

Kesadaran tentang kematian menjadi salah satu latihan spiritual yang beliau tekankan.

Ungkapan “mati sebelum mati” tidak dipahami sebagai tindakan fisik, melainkan sebagai proses mematikan hawa nafsu sebelum kematian benar-benar datang. Keinginan yang berlebihan terhadap dunia harus dikendalikan agar hati menjadi lebih tenang.

Dengan cara itulah manusia belajar melepaskan ego yang selama ini menjadi sumber berbagai konflik.

Semakin kecil ego seseorang, semakin besar ruang bagi cahaya keimanan untuk tumbuh dalam dirinya.

Seluruh proses tersebut pada akhirnya bermuara pada satu tujuan, yaitu tauhid.

Menurut Syekh Muhammad Arsyad, tauhid bukan sekadar mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah. Tauhid adalah menempatkan Allah sebagai satu-satunya pusat kehidupan.

Tidak boleh ada harta, jabatan, tokoh, kelompok, maupun ideologi yang menempati posisi yang seharusnya hanya dimiliki Allah.

Semua yang ada di dunia hanyalah sarana untuk mendekat kepada-Nya.

Prinsip tauhid inilah yang menjadi pagar agar perjalanan tasawuf tidak keluar dari ajaran Islam. Semakin tinggi pengalaman spiritual seseorang, semakin kuat pula komitmennya terhadap syariat.

Dengan demikian, tasawuf tidak pernah menghapus kewajiban ibadah. Justru ibadah menjadi semakin hidup karena dilakukan dengan kesadaran penuh akan kehadiran Allah.

Pesan-pesan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari terasa sangat relevan di tengah masyarakat modern yang sering mengalami kegelisahan. Banyak orang mengejar pencapaian lahiriah, tetapi kehilangan ketenangan batin. Ada yang memiliki harta berlimpah, namun tetap merasa kurang. Ada yang memperoleh popularitas, tetapi hidup dalam kecemasan.

Tasawuf menawarkan jalan yang berbeda.

Ketenangan bukan lahir dari banyaknya harta, melainkan dari hati yang bersih. Kebahagiaan bukan berasal dari pujian manusia, tetapi dari keyakinan bahwa Allah meridhai setiap langkah kehidupan.

Melalui pemikiran-pemikiran tersebut, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari mengingatkan bahwa perjalanan menuju Allah bukanlah perlombaan yang harus ditempuh dengan tergesa-gesa. Ia adalah proses panjang yang membutuhkan ilmu, kesabaran, kerendahan hati, dan kesungguhan untuk terus memperbaiki diri hingga akhir hayat.

Relevansi Pemikiran Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari bagi Kehidupan Modern dan Islam Nusantara

Warisan pemikiran Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Gagasan-gagasannya justru semakin menemukan relevansi di tengah kehidupan modern yang dipenuhi persaingan, tekanan sosial, dan arus informasi yang bergerak begitu cepat. Meski hidup pada abad ke-18, banyak pesan beliau yang masih mampu menjadi panduan bagi masyarakat abad ke-21.

Salah satu ajaran yang paling mendasar adalah pentingnya menempatkan tauhid sebagai pusat seluruh aktivitas kehidupan.

Bagi Syekh Muhammad Arsyad, tauhid bukan hanya kalimat yang diucapkan ketika bersyahadat. Tauhid adalah cara memandang kehidupan. Seseorang yang benar-benar bertauhid akan selalu menyadari bahwa tidak ada kekuatan yang berdiri sendiri selain Allah. Jabatan dapat hilang, kekayaan dapat berkurang, popularitas bisa memudar, bahkan kesehatan dapat berubah dalam hitungan waktu. Karena itu, menggantungkan seluruh harapan kepada selain Allah hanya akan melahirkan kekecewaan.

Cara pandang tersebut sesungguhnya menjadi fondasi ketenangan batin.

Di zaman sekarang, banyak orang mengalami kecemasan karena merasa masa depannya sepenuhnya bergantung pada pekerjaan, bisnis, atau penilaian orang lain. Ketika salah satu di antaranya terganggu, hidup seolah ikut runtuh. Syekh Muhammad Arsyad mengajarkan perspektif yang berbeda. Manusia tetap wajib bekerja keras, tetapi hatinya tidak boleh bergantung kepada pekerjaan. Manusia tetap harus membangun usaha, namun keyakinannya tidak boleh bergeser dari Allah kepada keuntungan materi.

Inilah makna tauhid yang hidup dalam praktik sehari-hari.

Beliau bahkan menjelaskan tingkatan tauhid secara bertahap. Pada tingkat pertama, seseorang menyadari bahwa seluruh peristiwa di alam semesta berlangsung atas kehendak Allah. Tidak ada satu pun kejadian yang berada di luar pengetahuan dan kekuasaan-Nya.

Pemahaman ini sering disalahartikan sebagai alasan untuk bermalas-malasan atau membenarkan kesalahan. Padahal, Syekh Muhammad Arsyad justru menegaskan bahwa takdir tidak menghapus tanggung jawab manusia. Seseorang yang melakukan kejahatan tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya karena syariat juga merupakan bagian dari ketetapan Allah.

Dengan demikian, keyakinan terhadap takdir tidak boleh dijadikan pembenaran untuk menghindari hukum atau mengabaikan kewajiban.

Semakin tinggi perjalanan spiritual seseorang, semakin besar pula kesadarannya bahwa segala kemampuan yang dimiliki hanyalah titipan Allah. Kepintaran bukan alasan untuk sombong. Kekayaan bukan bukti bahwa seseorang lebih mulia daripada orang lain. Semua kelebihan hanyalah amanah yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali oleh Sang Pemberi.

Kesadaran inilah yang melahirkan kerendahan hati.

Dalam kehidupan sosial, kerendahan hati menjadi modal penting untuk menjaga persaudaraan. Banyak konflik lahir bukan karena perbedaan pendapat, melainkan karena setiap orang merasa dirinya paling benar. Syekh Muhammad Arsyad mengingatkan bahwa ilmu seharusnya melahirkan tawaduk, bukan kesombongan.

Semakin banyak seseorang belajar, semakin ia menyadari bahwa masih banyak hal yang belum diketahuinya.

Pesan ini terasa sangat penting di era media sosial. Arus informasi yang begitu deras sering membuat orang merasa cukup hanya dengan membaca potongan tulisan atau menonton video singkat. Akibatnya, lahirlah budaya mudah menghakimi, gemar berdebat, dan cepat menyimpulkan sesuatu tanpa proses belajar yang memadai.

Padahal, tradisi keilmuan yang diwariskan Syekh Muhammad Arsyad justru mengajarkan kesabaran dalam mencari ilmu. Beliau menghabiskan puluhan tahun di Makkah untuk belajar kepada para ulama. Bahkan setelah itu masih ingin melanjutkan pendidikan ke Mesir. Semangat tersebut menunjukkan bahwa ilmu tidak memiliki garis akhir.

Karena itulah salah satu ungkapan beliau yang terkenal berbunyi, “Jadilah alim terlebih dahulu, maka kekayaan akan mengikuti.”

Ungkapan itu sering disalahpahami sebagai ajakan mengejar kekayaan melalui ilmu. Padahal, makna yang lebih dalam adalah menjadikan ilmu sebagai prioritas utama. Apabila ilmu telah menjadi karakter seseorang, maka Allah akan membuka berbagai jalan kehidupan yang tidak disangka-sangka.

Kalaupun harta tidak datang dalam jumlah besar, ilmu tetap melahirkan kekayaan lain yang jauh lebih bernilai, yaitu ketenangan, kebijaksanaan, dan kematangan dalam menghadapi kehidupan.

Selain menekankan pentingnya ilmu, Syekh Muhammad Arsyad juga menjelaskan hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara syariat, tarekat, dan hakikat.

Beliau mengibaratkannya seperti buah kelapa.

Kulit kelapa adalah syariat, bagian luar yang melindungi keseluruhan buah. Daging dan airnya merupakan tarekat, yaitu proses menikmati dan mengolah isi kehidupan spiritual. Sementara minyak kelapa melambangkan hakikat, inti terdalam yang baru dapat diperoleh setelah melalui proses panjang.

Perumpamaan ini memberikan pelajaran penting bahwa seseorang tidak bisa langsung berbicara tentang hakikat apabila syariatnya masih diabaikan. Sebaliknya, orang yang hanya berhenti pada syariat tanpa memperdalam dimensi batin juga belum memperoleh inti dari perjalanan spiritual.

Ketiga unsur tersebut harus berjalan seimbang.

Dalam praktik kehidupan modern, keseimbangan itu dapat diwujudkan dengan menjalankan ibadah secara benar sekaligus memperbaiki akhlak. Salat bukan hanya memenuhi syarat dan rukun, tetapi juga menghadirkan kekhusyukan. Puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan juga melatih pengendalian diri. Sedekah bukan hanya memindahkan harta, tetapi juga membersihkan hati dari sifat kikir.

Bagi Syekh Muhammad Arsyad, seluruh ibadah memiliki dimensi lahir dan batin.

Beliau juga memberikan perhatian besar terhadap zikir sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Namun, zikir yang dimaksud bukan sekadar pengulangan lafaz. Zikir harus dilakukan dengan hati yang hadir.

Seseorang diajak terlebih dahulu membersihkan dirinya melalui tobat dan istigfar, kemudian memperbanyak mengingat Allah dengan penuh kesadaran. Dalam proses tersebut, seluruh kecintaan kepada dunia perlahan-lahan dikurangi agar hati memiliki ruang yang lebih luas untuk mengingat Sang Pencipta.

Tujuan akhirnya bukanlah memperoleh kesaktian atau pengalaman luar biasa.

Sebaliknya, tujuan utama zikir adalah menghadirkan ketenangan, memperkuat tauhid, serta membangun kedekatan dengan Allah dalam setiap aktivitas kehidupan.

Pandangan ini menjadi kritik halus terhadap kecenderungan sebagian masyarakat yang lebih tertarik pada aspek-aspek mistis daripada pembinaan akhlak. Syekh Muhammad Arsyad mengingatkan bahwa pengalaman spiritual yang tinggi tanpa pondasi ilmu dan syariat justru dapat menyesatkan seseorang.

Oleh karena itu, beliau selalu mengajarkan pentingnya belajar secara bertahap sesuai kemampuan masing-masing.

Sikap moderat tersebut juga tampak ketika beliau menjadi mufti di Kesultanan Banjar. Dalam berbagai persoalan keagamaan, Syekh Muhammad Arsyad tidak hanya mempertimbangkan aspek hukum, tetapi juga kondisi masyarakat. Beberapa fatwanya menunjukkan kemampuan membaca konteks tanpa meninggalkan prinsip-prinsip syariat.

Pendekatan seperti inilah yang kemudian menjadi salah satu ciri perkembangan Islam Nusantara, yaitu memadukan keteguhan dalam menjaga ajaran agama dengan kebijaksanaan dalam menghadapi realitas sosial.

Warisan beliau juga terlihat dari keberhasilannya membangun masyarakat, bukan hanya melalui pengajaran agama, tetapi juga pemberdayaan ekonomi dan pengembangan wilayah. Dakwah tidak berhenti di mimbar, melainkan diwujudkan dalam pembangunan lahan pertanian, sistem irigasi, hingga lahirnya komunitas yang mandiri.

Model dakwah seperti ini menunjukkan bahwa agama tidak boleh dipisahkan dari persoalan kehidupan sehari-hari.

Islam hadir untuk membangun manusia secara utuh, mulai dari akidah, akhlak, pendidikan, hingga kesejahteraan sosial.

Di tengah berbagai tantangan zaman, pesan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari tetap relevan. Ketika masyarakat mudah terpecah oleh perbedaan pandangan, beliau mengajarkan pentingnya ilmu sebelum berbicara. Ketika banyak orang mengejar pengakuan, beliau mengingatkan agar manusia lebih sibuk memperbaiki hati daripada mencari pujian. Ketika dunia menawarkan berbagai ukuran kesuksesan, beliau menegaskan bahwa keberhasilan sejati adalah semakin dekat kepada Allah.

Pada akhirnya, seluruh perjalanan hidup Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dapat diringkas dalam satu pelajaran besar: manusia tidak diciptakan untuk mengejar dunia semata, melainkan untuk mengenal Tuhannya. Ilmu menjadi jalan, akhlak menjadi bekal, syariat menjadi pijakan, tasawuf menjadi penyuci hati, dan tauhid menjadi tujuan akhir dari seluruh perjalanan.

Lebih dari dua abad setelah wafatnya, pemikiran beliau masih hidup di berbagai pesantren, majelis taklim, hingga lembaga pendidikan Islam di Nusantara. Kitab-kitabnya terus dipelajari, fatwa-fatwanya tetap menjadi rujukan, sementara teladan hidupnya menginspirasi generasi demi generasi.

Di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks, sosok Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari mengingatkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan harus berjalan seiring dengan kejernihan hati. Sebab, ilmu tanpa akhlak hanya akan melahirkan kesombongan, sedangkan ibadah tanpa pemahaman dapat kehilangan arah.

Warisan terbesar beliau bukan hanya kitab-kitab yang ditinggalkan, melainkan cara memandang kehidupan: teruslah mencari ilmu, bersihkan hati, berbuat manfaat bagi sesama, dan jadikan Allah sebagai tujuan dari setiap langkah. Selama prinsip-prinsip itu tetap dipegang, pemikiran Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari akan selalu menemukan tempatnya dalam kehidupan umat Islam, baik di Nusantara maupun di mana pun nilai-nilai Islam yang damai, berilmu, dan berakhlak mulia terus dijaga.

Epilog

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, manusia sering kali disibukkan oleh pencapaian, pengakuan, dan persaingan. Kita berlomba menjadi yang tercepat, terkaya, atau paling dikenal, tetapi kerap lupa bertanya untuk apa semua itu dijalani. Di sinilah pemikiran Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari menemukan relevansinya yang paling mendalam.

Beliau mengajarkan bahwa kehidupan bukanlah perlombaan mengumpulkan hasil, melainkan perjalanan menyempurnakan ikhtiar. Tugas manusia bukan memastikan keberhasilan, tetapi terus mencari ilmu, memperbaiki akhlak, mendekat kepada Allah, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Hasil akhirnya adalah wilayah yang sepenuhnya berada dalam kehendak Allah SWT.

Warisan terbesar Syekh Muhammad Arsyad bukan sekadar kitab-kitab yang masih dipelajari hingga kini atau fatwa-fatwa yang menjadi rujukan lintas generasi. Warisan yang paling berharga adalah cara beliau memadukan ilmu, amal, dan spiritualitas dalam satu kesatuan. Beliau membuktikan bahwa seorang ulama tidak cukup hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga harus mampu membangun masyarakat, menghidupkan lahan yang mati, mendidik umat, serta menjaga keseimbangan antara syariat dan hakikat.

Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan zaman, teladan itu terasa semakin penting. Ilmu tanpa kerendahan hati hanya akan melahirkan kesombongan. Ibadah tanpa pemahaman berisiko berubah menjadi rutinitas yang kehilangan makna. Sementara spiritualitas tanpa pijakan syariat dapat menyesatkan arah perjalanan.

Karena itu, pesan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari tetap layak dijadikan kompas kehidupan: jangan pernah berhenti belajar, jangan mudah merasa paling benar, jangan menggantungkan hidup kepada selain Allah, dan jangan lelah menebarkan manfaat di mana pun berada.

Pada akhirnya, kemuliaan seseorang bukan diukur dari seberapa tinggi ia berdiri di hadapan manusia, melainkan seberapa dekat ia mampu mendekatkan diri kepada Allah. Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari seluruh perjalanan hidup Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari—bahwa ilmu adalah jalan, akhlak adalah cahaya, tauhid adalah tujuan, dan ridha Allah adalah puncak dari setiap ikhtiar manusia.

Exit mobile version