Saat tulisan ini dibuat, listrik baru saja menyala pukul 22.00 setelah padam pukul 15.00.
Padahal, Kalbar dinyatakan daerah surplus listrik.
Kenyataannya, Bumi Khatulistiwa justru merasakan pemadaman listrik juga.
Mari kita ungkap apa sebenarnya terjadi dengan PLN?
Di Kalimantan, sejak sore rumah-rumah mulai gelap. Kipas angin berhenti. Rice cooker menyerah.
Anak-anak belajar ditemani cahaya senter. Baru sekitar pukul 22.00 listrik datang lagi seperti mantan yang cuma muncul kalau lagi butuh.
Sementara itu, rilis resmi terdengar gagah. “Sistem Jawa telah pulih total.”
Hebat sekali. Rahasianya? Tambahan pasokan 16,8 juta ton batubara kalori 4.500 ke atas hingga akhir 2026.
Angka itu bukan sedikit. Kalau ditumpuk, mungkin lebih tinggi dari gunung alasan setiap kali listrik padam.
Masalahnya, yang terang benderang adalah Pulau Jawa.
Yang di Kalimantan? Masih belajar filosofi kegelapan.
Konon, akhir Juni 2026 Jawa sempat mengalami krisis batubara kalori menengah.
Pemerintah bergerak cepat. Dialokasikan 1,8 juta ton khusus untuk Juli, lalu ditambah 3 juta ton setiap bulan mulai Agustus sampai Desember.
Hasilnya, daya mampu pembangkit naik sekitar 5 GW.
Selesai. Happy ending. Minimal untuk Jawa.
Lalu bagaimana dengan Kalimantan? Nah, di sinilah filmnya berubah menjadi thriller.
Katanya bukan kekurangan batubara. Katanya hanya gangguan teknis di PLTGU Bangkanai dan beberapa pembangkit lain.
Kalimat “gangguan teknis” ini luar biasa sakti. Ia bisa menjelaskan apa saja.
Mirip jawaban “masih diproses” kalau mengurus berkas.
Akibatnya, pemadaman bergilir tetap terjadi di Kalbar, Kalsel, sampai Kalteng. Padahal di atas kertas. Surplus daya.
Ini menarik. Surplus listrik, tapi lampu mati.
Kalau diterjemahkan ke bahasa rakyat, kira-kira begini, “Kolamnya penuh ikan, tapi semua orang pulang membawa ember kosong.”
Di sinilah aroma konspirasi mulai menguar. Bukan konspirasi ala alien membangun markas di Bulan.
Ini lebih sederhana, lebih membumi, dan mungkin justru karena terlalu masuk akal jadi terdengar mengerikan.
Pertanyaannya sederhana. Kenapa PLN selalu kekurangan batubara?
Jawabannya juga sederhana. Karena harga batubara untuk PLN terlalu murah.
Lewat skema Domestic Market Obligation (DMO), perusahaan tambang diwajibkan memasok 30 persen produksinya ke dalam negeri dengan harga yang sudah ditentukan pemerintah.
Masalahnya, di pasar internasional harga bisa mencapai US$100-150 per ton.
