Selain itu, penyidik menemukan berbagai buku lintas agama, kitab kepercayaan, rajah atau wafak, dupa, kemenyan, dan perlengkapan ritual lainnya.
Berdasarkan kajian psikologi forensik dan sosiologi agama, keluarga tersebut diduga menjalankan praktik sinkretisme, yaitu pencampuran berbagai unsur kepercayaan menjadi keyakinan pribadi.
Meski demikian, polisi menegaskan bahwa keberadaan benda-benda tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya ritual yang secara langsung menyebabkan kematian korban.
Ahli psikologi forensik juga mengemukakan adanya dugaan fenomena folie à famille, yakni kondisi ketika suatu keyakinan berkembang dan dipercaya bersama oleh anggota keluarga hingga membentuk cara pandang yang terlepas dari realitas umum.
Dalam proses penyelidikan, Budianto Gunawan diduga menjadi sosok yang memiliki pengaruh besar terhadap pola pikir keluarga. Dugaan tersebut didasarkan pada hasil analisis psikologis terhadap aktivitas, dokumen, dan barang-barang yang ditemukan di lokasi kejadian.
Sementara itu, pemeriksaan digital terhadap telepon genggam Dian Febiana memperlihatkan adanya sejumlah pesan pribadi yang ditulis dengan bahasa sopan dan teratur.
Sebagian besar pesan tersebut dikirim ke nomor yang sudah tidak aktif atau bahkan kepada dirinya sendiri. Temuan ini dinilai menggambarkan kondisi isolasi sosial yang sangat mendalam menjelang akhir hidupnya.
Riwayat transaksi juga menunjukkan Dian sempat memesan makanan secara daring beberapa kali sebelum akhirnya seluruh aktivitas tersebut berhenti. Fakta tersebut memperkuat dugaan bahwa pembatasan konsumsi makanan berlangsung secara bertahap.
Setelah penyelidikan yang berlangsung selama beberapa pekan, Polda Metro Jaya menggelar konferensi pers untuk menyampaikan hasil akhir investigasi.
Polisi memastikan tidak ditemukan DNA orang lain yang mengarah pada keterlibatan pihak luar. Pemeriksaan laboratorium juga tidak menemukan kandungan racun seperti sianida maupun pestisida yang menjadi penyebab kematian.
Hasil autopsi menyebut Rudianto Gunawan meninggal dengan kondisi penyakit saluran pencernaan yang diperburuk malnutrisi dan dehidrasi. Reni Margareta diketahui mengidap kanker payudara.
Budianto Gunawan mengalami gangguan jantung, sedangkan Dian Febiana menderita gangguan pernapasan kronis yang disertai kekurangan nutrisi dan cairan tubuh.
Tim forensik menyimpulkan penyebab kematian seluruh korban merupakan kombinasi penyakit kronis, malnutrisi, dehidrasi berat, dan kegagalan fungsi organ, bukan akibat tindakan kriminal.
Atas dasar seluruh alat bukti yang dikumpulkan, penyidik menyatakan perkara tersebut tidak memenuhi unsur pidana sehingga penyelidikan resmi dihentikan melalui penerbitan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3).
Kasus Kalideres kemudian menjadi pelajaran penting mengenai dampak isolasi sosial, kesehatan mental, serta pentingnya akses terhadap layanan kesehatan.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa penarikan diri dari lingkungan, ditambah keyakinan yang membuat seseorang menolak pertolongan medis, dapat berujung pada tragedi besar.
Meski sempat diselimuti berbagai teori konspirasi, hasil investigasi resmi akhirnya menegaskan bahwa kematian empat anggota keluarga di Kalideres bukanlah pembunuhan ataupun bunuh diri massal.
Tragedi tersebut merupakan akumulasi persoalan medis, kondisi psikologis, isolasi sosial yang berkepanjangan, serta dinamika keyakinan yang berkembang di dalam keluarga.
Hingga kini, kasus Kalideres tetap dikenang sebagai salah satu misteri paling menyita perhatian publik, sekaligus menjadi pengingat pentingnya kepedulian terhadap kesehatan fisik, kesehatan mental, dan hubungan sosial di lingkungan sekitar.[dit]
