FAKTANASIONAL.NET – Situasi keamanan di Timur Tengah kian memanas seiring dengan eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Merespons kondisi yang semakin tidak menentu tersebut, Pentagon dikabarkan memperkuat armada udaranya dengan mengerahkan tambahan jet tempur siluman F-35 Lightning II serta pesawat F-16 Fighting Falcon ke wilayah tersebut.
Langkah strategis ini pertama kali dilaporkan oleh Air and Space Forces Magazine, yang mengutip sumber internal terkait pengerahan militer AS, dilansir pada 19 Juli 2026.
Berdasarkan informasi tersebut, jet tempur F-16 yang diterjunkan berasal dari Skuadron Tempur ke-480 yang berbasis di Pangkalan Udara Spangdahlem, Jerman. Sementara itu, unit F-35 didatangkan dari Sayap Tempur ke-48 yang ditempatkan di RAF Lakenheath, Inggris.
Selain pesawat tempur, Washington juga menyertakan armada tanker untuk mendukung pengisian bahan bakar di udara guna menjaga durasi operasional di wilayah konflik.
Keputusan ini diambil setelah gencatan senjata antara AS dan Iran runtuh akibat perselisihan yang memuncak di Selat Hormuz.
Pemerintahan Presiden Donald Trump terlihat semakin agresif dalam menjalankan kampanye udara, yang mencakup serangan terhadap infrastruktur strategis Iran, termasuk jembatan dan berbagai target krusial lainnya di dalam negeri Iran.
Sebagaimana dilansir dari SINDOnews.com dalam laporannya pada Minggu, 19 Juli 2026, intensitas serangan kedua negara telah berlangsung selama berminggu-minggu.
Pihak AS diketahui melakukan serangan ke situs-situs militer di sepanjang pantai Iran, sementara Teheran membalas dengan gempuran rudal ke pangkalan AS di wilayah Teluk serta menyasar kapal-kapal komersial.
Sebelum pengerahan tambahan ini, AS sebenarnya sempat menarik sebagian kekuatan udaranya yang sempat digunakan dalam Operasi Epic Fury sejak awal tahun.
Namun, dengan situasi yang kembali genting, langkah penguatan kembali menjadi prioritas Pentagon. Meski beberapa pesawat B-52H Stratofortress telah kembali ke pangkalan asalnya, kehadiran militer AS di kawasan tetap menjadi faktor kunci dalam dinamika perang yang masih terus bergulir hingga saat ini.[dit]
