FAKTANASIONAL.NET – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi dunia.
Dua jalur pelayaran strategis yang menjadi tulang punggung distribusi minyak global, yakni Selat Hormuz dan Bab Al Mandab, kini mengalami gangguan sehingga memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan minyak internasional.
Berdasarkan laporan yang dikutip dari CNN Indonesia yang mengacu pada Reuters, arus pelayaran melalui Selat Hormuz telah lebih dulu berkurang setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas.
Situasi tersebut kemudian diperparah dengan terganggunya jalur Bab Al Mandab di pintu masuk Laut Merah akibat serangan kelompok Houthi terhadap kapal-kapal yang melintas.
Meski belum ada pengumuman resmi mengenai penutupan Bab Al Mandab, jalur pelayaran yang menjadi salah satu rute energi terpenting di dunia itu dilaporkan tidak dapat dilalui secara normal. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.
Dikutip dari Reuters melalui CNN Indonesia, pada perdagangan Jumat (24/7) harga minyak mentah Brent berada di level US$99,97 per barel setelah terkoreksi tipis 72 sen atau 0,72 persen. Namun, secara mingguan Brent masih mencatat kenaikan sekitar 13,5 persen.
