AKU tak tahu dari mana harus memulai tulisan ini. Setiap kata terasa seperti embun yang ragu jatuh ke bumi, menggantung di ujung fajar, takut kehilangan langit yang telah lama memeluknya.
Namun diam lebih menyakitkan daripada menulis, sebab ada perasaan yang hanya dapat bernapas ketika menjadi kalimat.
Aku juga tak lagi sanggup mengeluarkan isi benak dan hatiku melalui lisan.
Bagiku, mulut terlalu sering menjadi pintu tempat keluar-masuknya kemunafikan dan dusta para manusia. Karena itu, kupilih menulis.
Sebab pada lembar-lembar sunyi ini, kata-kata tidak perlu berpura-pura, air mata tidak harus disembunyikan, dan kejujuran dapat bernapas tanpa takut dihakimi.
Jika kelak kau menemukan namaku di antara baris-baris tulisan ini, ketahuilah bahwa itu adalah suara yang tak pernah mampu diucapkan oleh lisanku, tetapi tak pernah berhenti hidup di dalam hatiku.
Engkau pernah memintaku pergi. Bukan dengan amarah, melainkan dengan kelembutan yang membuat perpisahan terasa lebih pilu.
Anehnya, di ujung langkah itu engkau menitipkan harapan agar suatu hari aku kembali.
Maka aku pun berjalan, membawa rindu yang tak pernah selesai, seolah setiap jalan adalah lingkaran yang diam-diam sedang mengantarkanku pulang kepadamu.
“Wahai sang rembulan,” kau anggap, “aku bagaikan matahari. Kita ditakdirkan tidak akan pernah bersatu.”
Aku tersenyum, sebab langit selalu memiliki rahasia yang tidak seluruhnya dipahami oleh mereka yang memandangnya.
Bukankah matahari dan rembulan memang jarang saling menyentuh?
Mereka menjaga jarak demi keseimbangan semesta. Namun ketika waktu mengizinkan keduanya saling bertemu dalam satu garis takdir, dunia menghentikan sejenak hiruk-pikuknya.
Burung-burung terdiam, angin melambat, manusia mendongak ke langit, menyaksikan keajaiban yang tak setiap hari diberikan kehidupan.
Engkau lupa, wahai rembulan, bahwa cinta tidak selalu diukur oleh lamanya bersama.
Ada perjumpaan yang hanya berlangsung sesaat, tetapi dikenang sepanjang zaman.
Gerhana adalah buktinya.
