ADA cinta yang tidak berakhir karena kebencian. Ia berakhir karena waktu memilih jalan yang berbeda.
Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada pengkhianatan yang dramatis.
Hanya dua orang yang perlahan menjadi asing, meski pernah saling menghafal cara tertawa, cara marah, bahkan cara terdiam.
Yang paling menyakitkan dari sebuah perpisahan bukanlah saat tangan itu terlepas.
Melainkan ketika kita sadar bahwa seseorang yang dulu menjadi rumah, kini hanya tinggal alamat yang tak lagi berani kita datangi.
Aneh memang. Dulu kita begitu sibuk merencanakan masa depan.
Membicarakan nama anak, warna dinding rumah, kota yang ingin ditinggali saat tua nanti. Kita percaya bahwa dunia terlalu kecil untuk memisahkan dua orang yang saling mencintai.
Namun hidup diam-diam mengajarkan satu kenyataan yang tidak pernah diajarkan dalam kisah-kisah romantis: cinta kadang tidak cukup untuk membuat dua orang tetap bersama.
Bukan karena hatinya telah kosong. Justru sering kali ia pergi saat cintanya masih penuh. Sebab ada luka yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan pelukan.
Ada lelah yang tidak bisa dihapus hanya dengan kata “bertahanlah”. Dan ada keadaan yang memaksa seseorang melepaskan apa yang paling ia inginkan.
Sejak saat itu, kenangan berubah menjadi benda paling berat di dunia. Lagu-lagu yang dulu terdengar indah kini terasa seperti hujan yang turun di dalam dada.
Aroma kopi mengingatkan pada obrolan panjang yang tak pernah selesai. Jalan yang biasa dilewati bersama mendadak terasa lebih panjang karena tak ada lagi tangan yang bisa digenggam.
Orang-orang berkata, waktu akan menyembuhkan. Mungkin benar. Tetapi mereka lupa mengatakan bahwa waktu tidak menghapus kenangan. Ia hanya mengajarkan kita hidup berdampingan dengannya.
Akhirnya kita belajar tersenyum sambil menyimpan rindu yang tak lagi memiliki tujuan.
