Hasto Relevansikan Sumpah Pemuda dengan Sumpah Rakyat Saat Tragedi Kudatuli 1996

Kejeniusan serupa juga ditunjukkan oleh Bung Karno yang pada usia 26 tahun telah berani mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 4 Juli 1927 guna menyatukan anak-anak muda demi menginspirasi lahirnya Sumpah Pemuda 1928.

“Bagaimana kita bisa menghancurkan kekuatan kolonialisme yang saat itu terbesar di muka bumi? Itu dimulai dengan ide dan imajinasi anak muda. Bung Karno pada usia 26 tahun mendirikan PNI karena terinspirasi oleh spirit kemerdekaan Amerika Serikat melawan Inggris. PNI inilah yang menginspirasi lahirnya Sumpah Pemuda,” paparnya.

Lebih lanjut, Hasto menekankan bahwa perubahan-perubahan besar di dunia, seperti Revolusi Prancis, pada awalnya hanya digerakkan oleh segelintir tokoh intelektual yang berani menguji kekuatan pemikiran mereka di tengah masyarakat luas.

Melalui kehadiran 28 anak muda perdana dalam wadah Public Pulse 28, Hasto berharap gerakan ini mampu melahirkan kepemimpinan intelektual (intellectual leadership) baru yang berakar pada penyelesaian tantangan nyata masyarakat.

“Revolusi Prancis hanya dilakukan oleh beberapa orang dengan tiga orang intelektual utama, dan mampu mengubah dunia dari hegemoni feodalisme. Di sini ada 28 orang berkumpul melalui Public Pulse, mari kita ubah Indonesia dan dunia dari kekuatan pemikiran anak-anak muda ini,” pungkas Hasto Kristiyanto.

Sementara, wadah intelektual Public Pulse 28 ini difasilitasi oleh DPP PDI Perjuangan dengan menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang keprofesian yang dekat dengan dunia anak muda. Di antaranya adalah Co-Founder What is Up Indonesia (WIUI) sekaligus penulis buku “Makannya Mikir!”, Abigail Limuria, serta Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Berly Martawardaya.

Bertindak sebagai pemandu diskusi sekaligus host dari Public Pulse 28 adalah politisi muda PDI Perjuangan, Muhammad Syaeful Mujab.

Exit mobile version