Daerah  

Nestapa Warga Torobulu: Protes Tambang Nikel Berujung Terusir dari Rumah, Izin PT WIN Kembali Disorot

Nestapa Warga Torobulu: Protes Tambang Nikel Berujung Terusir dari Rumah, Izin PT WIN Kembali Disorot/(ilustrasi)

FAKTANASIONAL.NET – Ekspansi tambang nikel di Desa Torobulu, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, kembali memunculkan sorotan.

Sejumlah warga mengaku kehilangan rasa aman setelah aktivitas pertambangan semakin mendekati permukiman.

Salah satu kisah paling menyita perhatian adalah pengalaman Made, warga yang memilih meninggalkan rumahnya setelah mengaku mengalami intimidasi, ancaman relokasi, hingga penyegelan tempat tinggalnya.

Dikutip dari Mongabay (29 Juli 2026), Made bersama istri dan tiga anaknya menghadapi tekanan setelah memprotes aktivitas PT Wijaya Inti Nusantara (WIN).

Jarak area tambang yang hanya beberapa meter dari rumah memunculkan kekhawatiran akan longsor, terlebih dinding rumah mereka mengalami banyak retakan yang diduga dipicu getaran alat berat dan lalu lintas dump truck.

Puncak tekanan terjadi ketika Made mendapati tulisan “Rumah Disegel Yayasan CAI” terpampang di dinding rumahnya pada malam 2 Juni 2026.

Sehari kemudian, ia mengaku didatangi mantan perangkat desa yang menyampaikan ancaman pembongkaran rumah apabila persoalan tersebut tidak diselesaikan.

“Ini jelas pelanggaran. Masa mau segel rumah tidak na kasih tahu, sementara masih ditinggali,” keluh Made, dikutip dari Mongabay.co.id.

Made juga mengungkapkan bahwa pada 3 Juni 2026, sejumlah orang yang disebutnya sebagai aparat kepolisian tanpa seragam datang menawarkan relokasi. Namun ia mengaku ragu karena tawaran serupa sebelumnya tidak pernah terealisasi.

Dampak Tambang Meluas, Warga Mengaku Mengalami Intimidasi dan Kerusakan Lingkungan

Selain ancaman relokasi, keluarga Made mengaku harus hidup di tengah kebisingan, debu, hingga risiko longsor akibat aktivitas pertambangan yang semakin mendekati rumah mereka.

Retakan terlihat hampir di seluruh bagian bangunan, mulai dari ruang tamu hingga kamar tidur.

Nurmiati, istri Made, mengaku selalu dihantui rasa takut, terutama ketika hujan deras mengguyur kawasan tersebut.

“Takut ka. Kenapa mi kasihan ini perasaanku. Gara-gara perusahaan menggali lubang, bikin jurang. (Tanah) terkikis, pecah-pecah rumah. Begitu goyang-goyang tanah,” ujar Nurmiati.

Menurut keterangan warga, sejumlah pihak silih berganti mendatangi rumah mereka, mulai dari orang yang disebut berasal dari perusahaan hingga aparat.

Exit mobile version