Menggugat Takdir

Menggugat Takdir
Menggugat Takdir

MALAM adalah satu-satunya negeri yang tidak pernah menghakimi seorang penulis.

Di dalam sunyinya, kata-kata pulang menemukan maknanya. Secangkir kopi hanyalah alasan agar mata tetap terjaga, sebab sesungguhnya yang membuatnya bertahan adalah percakapan panjang antara jiwa dan keheningan.

Lalu, ketika fajar perlahan membuka tirainya, ia menyadari bahwa yang lahir bukan sekadar tulisan, melainkan serpihan jiwanya yang telah menemukan jalan pulang.

Tahukah kau ada fase saatnya seorang manusia tidak lagi menangis karena kehilangan dunia, melainkan karena kehilangan dirinya sendiri.

Ia berdiri di hadapan cermin, tetapi yang dilihatnya bukan lagi wajahnya.

Yang tampak hanyalah bayang-bayang dari semua kesalahan yang pernah ia pelihara, semua kesempatan yang pernah ia sia-siakan, dan semua doa yang dahulu enggan ia panjatkan.

Pada saat itulah ia mulai menggugat takdir.

Ia bertanya kepada langit yang diam.

Ia bertanya kepada malam yang panjang.

Ia bertanya kepada angin yang membawa harum tanah setelah hujan.

“Mengapa aku?”

Pertanyaan itu bergema di dalam dadanya, berulang-ulang seperti ombak yang tidak pernah lelah mencium pantai.

Namun langit tidak selalu menjawab dengan kata-kata.

Sebab ada jawaban yang hanya dapat didengar oleh hati yang telah lelah memusuhi dirinya sendiri.

Betapa sering manusia menyebut takdir sebagai penyebab penderitaannya, padahal yang melukainya adalah keinginannya sendiri.

Ia ingin memiliki apa yang bukan bagiannya.

Ia ingin mempertahankan apa yang memang harus pergi.

Ia ingin menguasai waktu, padahal waktu tidak pernah menjadi milik siapa pun.

Lalu ketika semuanya terlepas dari genggamannya, ia menyalahkan langit karena tangan yang kosong.

Padahal bukan langit yang merampas.

Melainkan kehidupan sedang mengajarinya bahwa tidak semua yang dapat digenggam pantas dimiliki.

Manusia adalah makhluk yang aneh.

Ia menangis ketika kehilangan sebutir pasir, tetapi tidak menyadari bahwa ia sedang berdiri di tepi lautan.

Ia mengejar setitik cahaya dunia hingga lupa bahwa matahari tidak pernah meminta siapa pun untuk memilikinya.

Begitulah hati yang diperbudak oleh keinginan.

Ia selalu merasa miskin, bahkan ketika seluruh bumi berada di bawah telapak kakinya.

Lihatlah pohon yang menjulang tinggi.

Ia tidak pernah memakan buahnya sendiri.

Lihatlah sungai yang mengalir.

Ia tidak pernah meminum airnya sendiri.

Lihatlah matahari.

Ia tidak pernah menikmati kehangatan yang dipancarkannya.

Namun semuanya tetap memberi.

Sebab alam tidak hidup untuk memiliki.

Ia hidup untuk menjadi manfaat.

Mengapa manusia justru ingin memiliki segala sesuatu, seolah-olah keabadian telah dijanjikan kepadanya?

Padahal setiap napas yang keluar adalah tanda bahwa sebagian hidupnya telah selesai.

Setiap helai rambut yang memutih adalah surat yang diam-diam dikirim waktu.

Setiap keriput adalah tulisan usia yang tidak dapat dihapus.

Dan setiap senja selalu mengingatkan bahwa matahari pun mengerti kapan ia harus tenggelam.

Hanya manusia yang sering lupa kapan ia harus merendahkan dirinya.

Aku pernah melihat seseorang memeluk emas seolah-olah emas itu mampu memeluknya kembali.

Aku pernah melihat seseorang mengejar kekuasaan hingga kehilangan keluarganya.

Aku pernah melihat seseorang mempertahankan kesombongan sampai tidak ada lagi yang sudi mendoakannya.

Mereka mengira sedang mengumpulkan kehidupan.

Padahal yang mereka kumpulkan hanyalah alasan untuk menyesal.

Karena kehidupan tidak pernah tinggal di dalam peti harta.

Ia tinggal di dalam hati yang tahu kapan harus melepaskan.

Ada manusia yang miskin harta tetapi kaya ketenangan.

Ada manusia yang sederhana tetapi wajahnya bercahaya oleh syukur.

Ada pula manusia yang dikelilingi kemewahan, tetapi jiwanya lebih sunyi daripada padang pasir yang telah lama kehilangan hujan.

Sungguh, kesunyian bukanlah tidak adanya manusia.

Kesunyian adalah ketika hati kehilangan arah pulang.

Dan arah pulang itu tidak pernah ditemukan di puncak gunung kesombongan.

Ia hanya ditemukan oleh mereka yang berani turun ke lembah kerendahan hati.

Barangkali, itulah rahasia mengapa benih harus dikuburkan sebelum menjadi pohon.

Mengapa hujan harus jatuh sebelum bunga bermekaran.

Mengapa malam harus datang sebelum fajar menyingsing.

Dan mengapa hati harus dihancurkan sebelum mampu mengenal kasih sayang Tuhannya.

Exit mobile version