Kritik Tidak Mengubah Apa-Apa Tanpa Ada Kasih Sayang dan Pengorbanan Didalamnya

Kritik Tidak Mengubah Apa-Apa Tanpa Ada Kasih Sayang dan Pengorbanan Didalamnya/ilustrasi

KRITIK sering kali dianggap sebagai bentuk perlawanan.

Ketika seseorang menunjukkan kesalahan, membongkar kekeliruan, atau mempertanyakan keputusan, tidak jarang kritik langsung dibaca sebagai kebencian.

Padahal, kritik dan kebencian adalah dua hal yang berbeda.

Kritik lahir karena seseorang masih peduli. Kebencian lahir ketika seseorang tidak lagi ingin melihat sesuatu menjadi lebih baik.

Masalahnya, kritik hari ini semakin sering kehilangan ruhnya. Ia berubah menjadi senjata untuk menjatuhkan, bukan cermin untuk memperbaiki.

Orang berlomba menunjukkan siapa yang salah, tetapi semakin sedikit yang bersedia bertanya: setelah kesalahan itu dibongkar, siapa yang mau ikut memperbaikinya?

Di sinilah kasih sayang dan pengorbanan menjadi penting.

Contoh sederhananya dapat dilihat dalam sebuah pekerjaan. Ketika seseorang menemukan kekeliruan yang berpotensi menimbulkan dampak buruk bagi perusahaan, ia tentu memiliki hak untuk mengkritik. Bahkan kritik tersebut bisa menjadi bentuk tanggung jawab.

Namun, persoalannya tidak berhenti pada keberanian menunjuk kesalahan.

Jika kritik itu benar-benar lahir dari kepedulian, maka orang yang mengkritik semestinya juga bersedia mengambil bagian dalam proses perbaikan.

Tidak harus mengambil alih pekerjaan orang lain. Tidak pula harus menjadi pahlawan.

Tetapi setidaknya bersedia membantu mencari jalan keluar.

Sebab sangat mudah mengatakan, “Itu salah.”

Yang jauh lebih sulit adalah mengatakan, “Mari kita perbaiki bersama.”

Di antara dua kalimat itu terdapat jarak yang bernama pengorbanan.

Pengorbanan bisa berupa waktu, tenaga, pikiran, bahkan kesediaan menanggung risiko.

Kritik yang tidak pernah diikuti keberanian untuk berbuat sering kali hanya berhenti sebagai suara yang ramai, tetapi tidak menghasilkan perubahan apa-apa.

Kritik tanpa kasih sayang mudah berubah menjadi penghukuman.

Sementara kritik yang disertai kepedulian memiliki peluang menjadi jalan keluar.

Persoalan ini tidak hanya terjadi di lingkungan kerja. Dalam kehidupan berbangsa, fenomenanya jauh lebih besar.

“Sebagai anak muda saya turut berdukacita kepada orang-orang cerdas di bangsa ini, akan tetapi pikirannya dikendalikan orang yang tidak bisa berpikir, sehingga pada akhirnya membentuk sebuah bangsa yang bermusuhan, kritik tidak lagi ditujukan untuk membangun akan tetapi dianggap seperti senjata, sehingga yang namanya orang ditodongkan senjata pastilah akan defenseif.”

Ketika kritik disampaikan dengan kebencian, pihak yang dikritik sering kali tidak lagi mendengar substansinya.

Perhatian bergeser dari persoalan yang dibahas menjadi cara kritik itu disampaikan. Orang merasa diserang, lalu membangun pertahanan.

Pada titik itu, kritik kehilangan daya ubahnya.

Exit mobile version