PERNYATAAN Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka agar siswa sementara membawa bekal makanan dari rumah setelah kasus keracunan dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, terdengar sederhana.
Bahkan bisa dianggap sebagai langkah paling masuk akal ketika keselamatan anak-anak sedang menjadi taruhan.
Tetapi politik tidak pernah sesederhana kalimat yang diucapkan di depan kamera.
Gibran datang menemui sejumlah siswa yang menjadi korban.
Ia menyampaikan permintaan maaf kepada para orang tua dan memastikan pemerintah memberikan penanganan medis terbaik.
Ia juga mengatakan tata kelola MBG akan dievaluasi agar kejadian serupa tidak terulang.
Di titik ini, persoalannya bukan sekadar soal bekal.
Pertanyaannya: mengapa Wakil Presiden justru meminta anak-anak kembali membawa makanan dari rumah ketika salah satu program unggulan pemerintahan Prabowo-Gibran adalah memastikan anak sekolah mendapatkan makanan bergizi melalui negara?
Jika hanya sementara karena alasan keamanan, tentu langkah tersebut dapat dipahami.
Namun secara politik, pernyataan itu tetap menyimpan pesan yang jauh lebih besar.
MBG adalah program yang membawa nama besar pemerintahan.
Keberhasilannya akan menjadi bagian dari rekam jejak Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran.
Karena itu, setiap persoalan dalam pelaksanaannya bukan hanya persoalan teknis dapur, distribusi atau pengawasan. Ia mudah berubah menjadi persoalan kepercayaan publik.
Ketika Solo Berhadapan dengan Mesin Politik Gerindra
Di sinilah isu hubungan Gibran, Solo, dan Gerindra menarik untuk dibaca lebih jauh.
Gibran bukan sekadar Wakil Presiden. Ia adalah figur politik yang lahir dan tumbuh dari panggung Solo.
Sebelum menjadi pasangan Prabowo, namanya melekat kuat dengan politik Solo dan keluarga Presiden ke-7 Joko Widodo.
Sementara itu, pemerintahan saat ini berdiri di atas konfigurasi politik yang sangat besar, dengan Gerindra sebagai kekuatan utama di belakang Presiden Prabowo.
Maka ketika Gibran tampil dengan pernyataan yang terdengar seperti jalan keluar berbeda dari semangat pelaksanaan MBG, publik wajar bertanya: apakah ini murni keputusan teknis di lapangan, atau ada perbedaan cara pandang mengenai bagaimana program tersebut seharusnya dijalankan?
Belum ada dasar untuk menyimpulkan telah terjadi “pecah kongsi” antara Gerindra dan Solo.
