“Dari sisi revenue ada kenaikan yang cukup signifikan 24%, kemudian ini yang kemudian juga membuka ruang fiskal sehingga belanjanya juga bisa tumbuh 17% sekitar itu, dan perlu dicatat, defisit kita sampai dengan bulan Juni, artinya satu semester ya, satu semester itu masih 0,76 persen, itu sangat terjaga, terkelola dengan baik lah, fiskal kita yang memang sangat prudent,” jelas Wamenkeu.
Kedisiplinan pengelolaan fiskal dan terjaganya stabilitas makro menjadi kunci utama dalam memelihara kepercayaan investor global terhadap iklim investasi di Indonesia.
“Artinya kita mampu tumbuh tinggi tanpa mengorbankan stabilitas. Inflasi terjaga, fiskal tetap sehat, dan ekonomi tetap bertumbuh di atas 5 persen. Inilah yang menjadi dasar kepercayaan investor terhadap Indonesia,” imbuhnya.
Menjelang penyampaian Nota Keuangan RAPBN Tahun Anggaran 2027, pemerintah berkomitmen untuk mempertahankan arah kebijakan fiskal yang terukur demi menstimulasi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
“Jadi intinya 2027 kita tetap ekspansi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan terukur,” pungkas Wamenkeu Juda Agung.
Baca Juga: Wamenkeu: RAPBN 2025 Mencerminkan Masa Transisi yang Baik
