KISAH Donald Trump kabur dari Air Force One ternyata belum tamat. Kalau sebelumnya dunia dibuat ngakak karena si rambut jagung diselundupkan lewat truk MBG, eh salah, katering maksudnya. Terbaru, saking takutnya dijemput malaikat maut, Trump sangat tega menjadikan staf dan wartawan sebagai umpan. Seratus lebih personel ia jadikan umpan. Emang gila si Trump. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Menjadikan staf dan wartawan sebagai umpan, di sinilah logika keamanan Amerika mulai terasa seperti sinetron episode 947.
Menurut laporan terbaru, Senator Demokrat Richard Blumenthal dari Connecticut mendesak Kongres meminta pengarahan mengenai operasi rahasia tersebut. Ia mempertanyakan bagaimana pemerintah menjamin keselamatan para staf dan wartawan yang tetap berada di pesawat yang sebelumnya dianggap terlalu berisiko untuk ditumpangi Trump.
Dengan kata lain, Trump diselamatkan. Yang lain? “Selamat jalan, semoga selamat juga.”
Pada 8 Juli 2026, Trump memang terlihat naik Air Force One di depan kamera. Wartawan melihat. Staf melihat. Dunia melihat. Beberapa menit kemudian, ternyata Trump diam-diam dipindahkan ke pesawat C-32A.
Sementara itu, lebih dari 100 orang tetap berada di Air Force One dan disebut tidak mengetahui ancaman serius yang sedang dihadapi presiden.
Para wartawan diminta menutup tirai jendela selama penerbangan. Ini sudah seperti:
“Mohon tutup tirai. Ada sesuatu di luar.”
“Apa, Pak?”
“Rahasia.”
“Bahaya?”
“Rahasia.”
“Presiden di mana?”
“Juga rahasia.”
C-32A yang membawa Trump kemudian tiba di RAF Mildenhall, Inggris, sekitar pukul 22.20 waktu setempat. Beberapa menit kemudian, Air Force One yang membawa rombongan pers ikut tiba.
Lalu muncul adegan yang kalau masuk film Hollywood mungkin ditolak karena dianggap terlalu absurd. Trump turun dari Air Force One seolah-olah baru saja tiba bersama semua orang.
Padahal sebenarnya sudah pindah pesawat. Ini bukan lagi perjalanan kenegaraan. Ini sulap tingkat presiden.
“Ladies and gentlemen, Presiden Trump!”
“Lho, bukannya tadi di pesawat?”
“Betul.”
“Terus?”
“Sudah pindah.”
“Ke mana?”
“Tidak tahu.”
“Terus kenapa muncul dari sini?”
“Karena plot twist.”
