Masyarakat sebenarnya bisa menerima ketidakpastian.
Yang sulit diterima adalah ketika masyarakat merasa sedang diberi kepastian sebelum fakta benar-benar lengkap.
Menurut saya, transparansi jauh lebih penting daripada sekadar membuat keadaan terlihat baik-baik saja.
Orang Tua Tidak Sedang Menyerang Pemerintah
Saya juga tidak setuju apabila orang tua yang memilih melapor kemudian dicap sebagai pihak yang ingin menjatuhkan program MBG.
Belum tentu.
Bisa jadi mereka justru sedang melakukan hal yang sangat sederhana: melindungi anaknya.
Orang tua tidak perlu datang ke polisi sambil membawa kesimpulan bahwa siapa pun pasti bersalah.
Cukup bawa fakta.
“Kami tidak tahu apa penyebabnya, tetapi anak kami mengalami kejadian ini setelah mengonsumsi makanan tersebut. Kami ingin semuanya diperiksa.”
Bagi saya, kalimat seperti itu jauh lebih sehat daripada membuat tuduhan di media sosial.
Laporan bukan vonis.
Laporan adalah pintu untuk mencari tahu.
Kalau setelah diperiksa ternyata makanan MBG tidak berkaitan dengan kejadian tersebut, maka masyarakat juga harus menerima hasilnya.
Tetapi kalau ditemukan ada masalah dalam bahan baku, pengolahan, penyimpanan, distribusi, atau pengawasan, maka jangan ditutup-tutupi.
Perbaiki.
Dan kalau ternyata ditemukan unsur pidana, tentu proses hukum harus berjalan.
Sesederhana itu.
Jangan Tunggu Korban Bertambah
Kejadian Kamis, 13 Agustus 2026, seharusnya menjadi alarm.
Bukan hanya untuk sekolah.
Bukan hanya untuk pemerintah daerah.
Bukan hanya untuk Badan Gizi Nasional.
Tetapi untuk seluruh pihak yang terlibat dalam rantai MBG.
Saya tidak ingin satu kejadian digunakan untuk menghakimi seluruh program.
Tetapi saya juga tidak ingin program pemerintah dijadikan alasan untuk mengurangi ketelitian dalam pemeriksaan.
Program yang baik seharusnya tidak takut diawasi.
Program yang baik tidak seharusnya alergi terhadap kritik.
Program yang benar-benar berpihak kepada anak justru harus berani memastikan bahwa setiap tahapan berjalan sebagaimana mestinya.
Karena satu porsi makanan mungkin terlihat kecil.
Tetapi di balik porsi itu ada seorang anak.
Dan di belakang anak itu ada orang tua yang menitipkan kepercayaan.
Itulah yang sering kita lupakan.
Kepada Orang Tua Korban: Jangan Panik, Tetapi Jangan Diam
Kepada orang tua yang anaknya terdampak, saya memahami kalau rasa marah dan kecewa sedang bercampur dengan ketakutan.
Tetapi kalau memang merasa ada sesuatu yang harus diperiksa, jangan berhenti pada kemarahan.
Catat kronologinya.
Simpan dokumen medis.
Simpan informasi makanan yang dikonsumsi.
Simpan foto atau video yang masih ada.
Catat waktu makan dan waktu munculnya keluhan.
Jika ada bukti atau informasi lain yang relevan, jangan dibuang.
Dan kalau merasa perlu meminta pemeriksaan hukum, gunakan jalur yang tersedia.
Tidak perlu menghakimi siapa pun.
Tidak perlu membuat kesimpulan sendiri.
Cukup katakan:
“Kami ingin tahu apa yang terjadi kepada anak kami.”
Menurut saya, itu sudah cukup.
Karena orang tua berhak mendapatkan jawaban.
Dan anak-anak berhak mendapatkan makanan yang aman.
Saya mendukung MBG.
Tetapi dukungan tidak berarti harus diam ketika ada masalah.
Kritik juga bukan berarti membenci.
Meminta pemeriksaan bukan berarti ingin menghentikan program.
Justru sebaliknya, kalau kita ingin MBG berjalan dalam jangka panjang, maka program ini harus berani menerima evaluasi.
Kalau ada dugaan keracunan, periksa.
Kalau ada bukti, ungkap.
Kalau ternyata tidak ada hubungan, jelaskan.
Kalau ada kelalaian, perbaiki.
Kalau ada pelanggaran hukum, proses.
Jangan tunggu korban bertambah.
Jangan tunggu kejadian yang sama terjadi di sekolah lain.
Jangan tunggu sampai kepercayaan orang tua hilang.
Jangan pula menganggap pertanyaan orang tua sebagai ancaman.
Karena ketika seorang ayah bertanya, sebenarnya ia tidak sedang berpolitik.
Ketika seorang ibu meminta penjelasan, ia tidak sedang menyerang pemerintah.
Mereka sedang memikirkan anaknya.
Jaman sekolah dulu, kita mungkin pernah mengenal istilah kesurupan massal.
Jaman sekarang, kita dihadapkan pada dugaan keracunan massal.
Tentu saya tidak ingin membandingkan keduanya secara berlebihan.
Tetapi ada satu hal yang sama: ketika banyak anak mengalami sesuatu secara bersamaan, kita tidak boleh sekadar menyaksikan lalu melupakannya.
Harus dicari tahu.
Harus diperiksa.
Harus ada jawaban.
Sebab keselamatan anak bukan tempat untuk melakukan eksperimen.
MBG boleh mempunyai cita-cita besar.
Tetapi cita-cita besar membutuhkan tanggung jawab yang jauh lebih besar.
Kalau program ini memang dibuat untuk anak Indonesia, maka keselamatan anak harus menjadi prioritas pertama.
Bukan sekadar target distribusi.
Bukan sekadar angka.
Bukan sekadar laporan keberhasilan.
Anak-anak.
Dan kepada orang tua korban, jangan hanya meminta anak disembuhkan.
Mintalah juga kebenaran.
Bukan untuk membalas.
Bukan untuk menghakimi.
Tetapi supaya anak lain tidak mengalami hal yang sama.
Sebab satu anak yang sakit saja sudah cukup menjadi alasan untuk bertanya.
Dan ketika yang terdampak adalah puluhan anak, maka pertanyaan itu pantas mendapatkan jawaban melalui pemeriksaan yang serius, terbuka, dan bertanggung jawab.[dit]
