Kalau bahan mentah dijual murah lalu produk jadinya dibeli mahal, itu seperti menjual ayam hidup kemudian membeli ayam goreng lengkap dengan nasi. Kita menyediakan bahan, orang lain menikmati margin.
Ada pula infrastruktur, riset, tabungan nasional, stabilitas politik dan perdamaian. Jalan, pelabuhan, listrik dan internet menurunkan biaya ekonomi. R&D membuat negara tidak selamanya menjadi pelanggan teknologi.
Lalu bagaimana dengan agama dan ideologi? Keduanya berpengaruh, tetapi bukan tombol ajaib. Agama bisa membangun kejujuran, disiplin, solidaritas dan etos kerja. Tetapi agama juga bisa menjadi sumber konflik jika dipakai memperuncing identitas.
Ideologi juga demikian. Korea Selatan dan Korea Utara adalah contoh menarik. Berasal dari bangsa sama, tetapi mengambil jalan politik-ekonomi berbeda dan menghasilkan jurang kemakmuran luar biasa.
Maka persoalannya bukan sekadar agama apa atau ideologi apa, tetapi bagaimana nilai tersebut diterjemahkan menjadi institusi, pendidikan, hukum dan kebijakan ekonomi.
Di sinilah istilah salah urus penting. Salah urus bukan cuma korupsi. Ia juga bisa berupa salah prioritas, pendidikan buruk, hukum tidak pasti, industri lemah, riset minim, birokrasi gemuk, atau terus mempertahankan kebijakan terbukti gagal.
Ketika melihat Islandia US$98.150 dan Suriah US$1.052, jangan buru-buru menyebut semuanya sebagai takdir. Ada sejarah. Ada perang. Ada ideologi. Ada institusi. Ada kebijakan. Ada satu pertanyaan harus berani diajukan setiap negara, setelah merdeka puluhan tahun, apakah kita benar-benar sedang membangun negara, atau jangan-jangan terlalu lama salah mengurusnya?
Sebab merdeka itu satu hari. Makmur itu pekerjaan puluhan tahun. Salah urus bisa diwariskan kalau tidak pernah berani mengakuinya.
“Tapi, sedikit bangga juga, Bang. India masih di bawah kita.”
“Tapi negara Ladusing itu sudah meninggalkan jejak di bulan dan punya nuklir, wak.” Ups
Oleh: Rosadi Jamani
