Opini  

Maulid Nabi Tiba, Cerita Bid’ah Biasanya Menggema

Maulid Nabi Tiba, Cerita Bid’ah Biasanya Menggema/(Instagram)

HAMPIR lupa, rupanya hari ini Maulid Nabi, libur. Ramai memposting flyer peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad saw (versi KBBI yang benar saw., bukan SAW). Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Kalau bicara Maulid, siap-siap dicap bid’ah. Begitu label meluncur, suasananya seperti sidang akhirat sudah dibuka di teras masjid. Bid’ah berarti masuk neraka. Ancaman itu membayangi siapa saja yang bersemangat membicarakan kelahiran junjungan umat Islam. Debatnya dari dulu tidak habis-habis. Mungkin baru selesai saat kiamat, itu pun kalau panitianya sepakat.

Tapi saya mau bertanya, loe mau setiap Maulid lewat begitu saja? Sepi. Hening. Masjid diam. Mimbar dingin. Tidak ada selawat, tidak ada kisah perjuangan Rasul, tidak ada anak-anak yang belajar siapa Muhammad?

Kalau begitu, jangan-jangan kita terlalu sibuk menghitung apakah perayaannya bid’ah, sampai lupa menghitung berapa banyak akhlak Nabi yang sudah kita tinggalkan. Lalu muncul sindiran klasik, “Ente kalau anak ulang tahun dirayakan meriah, kenapa junjungan sendiri tidak boleh dirayakan?”

Tahun 2026, umat Muslim di berbagai belahan dunia memperingati Maulid pada 12 Rabiul Awal, bertepatan dengan 25 Agustus. Mayoritas Sunni memperingatinya pada 12 Rabiul Awal. Sementara banyak komunitas Syiah pada 17 Rabiul Awal. Bentuknya berbeda, tetapi intinya sama. Cinta, syukur, serta kesempatan mempelajari akhlak dan perjuangan Rasulullah.

Di Mesir, Maulid sangat meriah. Ada Halawet al-Mawlid, manisan dari gula, wijen, dan kacang-kacangan, serta arouset al-mawlid, boneka pengantin dari gula. Di Lapangan Azhar, Kairo, perayaan dapat dihadiri lebih dari dua juta umat Muslim.

Turki punya Mevlid Kandili, dengan pembacaan syair Vesîletü’n-Necât karya Süleyman Çelebi dari abad ke-15. Tanzania merayakannya dengan pawai, pembacaan Alquran, dan pujian berirama. Pakistan dan sebagian Asia Selatan bahkan menghidupkan seluruh bulan Rabiul Awwal dengan pengajian, puisi pujian, pembacaan Alquran, pembagian makanan, dan bantuan kepada yang membutuhkan. Di Singapura, Maulid juga diisi kegiatan sosial untuk anak miskin dan yatim.

Exit mobile version