Pertemuan tersebut diperkirakan menjadi perhatian karena salah satu pembahasannya berkaitan dengan keamanan jalur perairan yang sangat vital bagi distribusi minyak dan gas global.
Selat Hormuz sendiri telah menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik Iran dengan Amerika Serikat. Ketegangan tersebut berlangsung selama enam bulan dan turut melibatkan Israel.
Iran sebelumnya membatasi akses kapal melalui Selat Hormuz sebagai respons terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel yang disebut memulai perang pada 28 Februari. Sebelum konflik berlangsung, jalur tersebut dikenal sebagai perairan yang relatif bebas dilalui kapal internasional.
Kini, kapal yang hendak melintas diwajibkan memperoleh izin dari Iran dengan alasan keamanan dan kedaulatan. Tehran juga tengah mempertimbangkan penerapan mekanisme biaya layanan bagi kapal yang menggunakan jalur tersebut.
Dalam situasi tersebut, kapal yang dianggap tidak memenuhi ketentuan Iran dilaporkan berulang kali menjadi sasaran serangan.
Di sisi lain, Amerika Serikat disebut sesekali melancarkan serangan terhadap kawasan pesisir Iran sebagai bagian dari upaya mengurangi kendali Tehran atas Selat Hormuz.
Kondisi ini membuat setiap insiden di kawasan tersebut berpotensi meningkatkan ketegangan sekaligus mengancam kelancaran jalur perdagangan energi internasional.[dit]
