Laporan Intelijen AS Gunakan AI, Nyaris Perang AS-China

USS Gravely (DDG-107), kapal perusak berpeluru kendali milik Angkatan Laut Amerika Serikat (U.S. Navy). Foto: Reuters

Di seluruh jajaran militer dan komunitas intelijen AS, para pejabat berupaya mengintegrasikan AI ke dalam hampir setiap aspek pekerjaan mereka. Mulai dari menganalisis data intelijen mentah dalam jumlah besar yang dikumpulkan AS dan memilih target-target serangan, hingga penerapan yang lebih rutin seperti pengelolaan anggaran, logistik, dan rantai pasokan.

Namun peristiwa tersebut menyoroti risiko besar penggunaan teknologi baru yang canggih, yang belum sepenuhnya dipahami, untuk penentuan target di tengah situasi perang. Para analis sejak lama mengkhawatirkan AI dapat memicu kesalahan perhitungan fatal, jika negara mengandalkan data yang buruk atau tidak valid.

Miskalkulasi yang dipicu informasi yang tidak akurat, nyaris membuat AS menyerang kapal China.

Dalam kasus spesifik ini, seorang analis meminta informasi kepada chatbot mengenai laporan intelijen terkait manifes kapal yang berasal dari Komando Operasi Khusus AS kawasan Pasifik, yang bermarkas di Hawaii.

Tidak jelas apakah chatbot itu merupakan produk komersial yang tersedia secara umum atau produk pemerintah AS.

Bot tersebut menggabungkan intelijen open-source dengan intelijen sinyal rahasia milik pemerintah, lalu menarik kesimpulan krusial mengenai muatan yang dibawa kapal yang dimaksud.

BACA JUGA

Mengapa UEA Jadi Target Utama Hujan Rudal Iran? Fakta Mengejutkan di Balik Perang Asimetris

Analis kemudian menggunakan AI untuk menyusun temuan itu menjadi laporan intelijen standar — jenis laporan yang dipercaya oleh para pejabat militer — dan menyebarluaskan laporan tersebut.

Alasan di balik pesatnya penerapan AI adalah kemampuannya membantu militer mengambil keputusan di medan tempur, seperti menentukan target mana yang akan diserang atau ke mana aset militer harus dipindahkan, dengan lebih cepat.

Para pejabat menyatakan bahwa AS tidak boleh tertinggal dalam integrasi AI, mengingat kemungkinan harus menghadapi China atau musuh lainnya yang berpotensi mengungguli AS selangkah lebih maju.

Komando Operasi Khusus AS kawasan Pasifik dan Pentagon belum memberikan komentar atas laporan tersebut. (*)

Exit mobile version