FAKTANASIONAL.NET – Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi resmi mencopot Direktur Jenderal Perhubungan Laut (Dirjen Hubla) Muhammad Masyhud pada hari Jumat 18 September 2026.
Dikatakan oleh Menhub bahwa pergantian dirjen perhubungan laut sebagai bagian dari evaluasi di internal Kementerian perhubungan.
Ya memang dalam delapan bulan di tahun 2026, Januari hingga September 2026 ini sudah terjadi 602 kecelakaan kapal saat melaut.
Pada tanggal 13 September 2026 terjadi dua kecelakaan kapal:
Pertama, kapal Virgo Transport 8 yang terbalik di perairan Masalembo dalam perjalanan dari Surabaya ke Banjarmasin. Korban dalam kecelakaan itu sebanyak 243 orang dengan perincian 9 orang meninggal dunia dan 226 orang masih hilang di lautan dalam pencarian.
Kecelakaan kedua adalah kalap Tugboat (TB) atau kapal tunda MT20 1301 milik PT Dharmalancar Sejahtera yang membawa delapan orang Anak Buah Kapal (ABK) tenggelam di perairan Bawean, Jawa Timur. Akhirnya tim SAR Surabaya berhasil mengevakuasi delapan orang awak kapal Tugboat yang sempat hilang di laut dalam kondisi selamat.
Kementerian Perhubungan RI pada tanggal 17 September 2026 merayakan Hari Perhubungan Nasional ke 55 dan mengusung tema tentang membangun konektivitas.
Salah satu tema kampanye yang diusung oleh Kementerian Perhubungan RI untuk Hari Perhubungan Nasional adalah Bersama Membangun Konektivitas untuk Indonesia Emas. Konektivitas Nusantara: Menegaskan peran penting sektor transportasi dalam menghubungkan dan menyatukan berbagai wilayah, pulau, desa, hingga kota yang ada di seluruh Indonesia. Dalam konektivitas yang baik maka itu akan berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Konektivitas yang baik dapat terbangun dengan sistem transportasi yang berkeselamatan serta terintegrasi baik yang mendorong pemerataan pembangunan serta mobilitas dan kesejahteraan masyarakat. Jika melihat kondisi jaminan keselamatan dalam sistem transportasi nasional ini masih dalam kondisi mengkhawatirkan karena tinggi angka kecelakaannya. Padahal dalam semua perundang-undangan bidang transportasi diatur bahwa pemerintah pusat dan daerah di Indonesia bertanggung jawab menyediakan layanan transportasi minum yang berkeselamatan.
Masalah utamanya sampai sekarang adalah pemerintah masih belum mau menyediakan layanan transportasi umum Indonesia yang berkeselamatan. Layanan transportasi yang ada masih sering terjadi kecelakaan selain di laut, kecelakaan masih tinggi di transportasi darat.
Misalnya saja kecelakaan kereta api pada tanggal 27 April 2026 terjadi kereta api Argo Bromo Anggrek menabrak dari belakang KRL Jabodetabek yang sedang berhenti di stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat. Korban dalam kecelakaan itu korban 16 orang meninggal dunia dan 90 orang lainnya mengalami luka-luka. Hingga saat ini pun pemerintah belum mengumumkan hasil investigasi dan evaluasi atas kecelakaan tabrakan dua kereta api di stasiun Bekasi Timur tersebut.
Begitu pula masih tingginya kecelakaan lalu lintas di jalan raya terutama yang di akibatkan oleh tidak laiknya kendaraan. Kasus kecelakaan lalu lintas yang tinggi banyak dipicu oleh truk kelebihan dimensi kelebihan muatan atau Over Dimensi Over Loading (truk ODOL).
