Ia mempertanyakan posisi nilai pendidikan apabila jalur pendidikan formal seolah dapat dikangkangi dengan penggunaan Suket yang disebutnya memiliki kelas setara kursus enam bulan.
“Jadi, ini soal insentif pendidikan. Insentif pendidikan, itu akan tetap ada sepanjang nilai etika, moral dan integritas pendidikan tetap terjaga,” kata Khozinudin.
Ia menilai, tanpa nilai tersebut, publik dapat mempertanyakan tujuan menempuh pendidikan resmi dan menjalani proses sekolah SMA apabila pada akhirnya Suket saja dinilai cukup untuk menjadi Wapres.
Khozinudin menegaskan bahwa nilai etika, moral, dan integritas tidak hanya relevan dalam dunia pendidikan. Menurut dia, prinsip tersebut juga berkaitan dengan berbagai bidang kehidupan.
“Nilai-nilai etika, moral dan integritas bukan hanya penting di dunia pendidikan. Melainkan juga di dunia politik, akademis, usaha, lingkungan kerja, hingga dunia aktivis,” kata Khozinudin.
Polemik Gibran pun ditempatkan sebagai momentum untuk kembali melihat pentingnya etika, moral, dan integritas dalam berbagai ruang kehidupan, terutama ketika menyangkut pendidikan dan jabatan publik.[dit]
