3 Fenomena Alam yang Jadi Tameng Indonesia dari Bencana Mematikan
FAKTANASIONAL.NET - Indonesia dikenal sebagai negara yang berada di kawasan rawan bencana. Namun, di balik ancaman gempa, tsunami, badai, hingga cuaca ekstrem, terdapat sejumlah fenomena alam yang secara ilmiah turut memberikan perlindungan terhadap…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Indonesia dikenal sebagai negara yang berada di kawasan rawan bencana.
Namun, di balik ancaman gempa, tsunami, badai, hingga cuaca ekstrem, terdapat sejumlah fenomena alam yang secara ilmiah turut memberikan perlindungan terhadap wilayah Nusantara.
Dilansir redaksi dari berbagai sumber pada 8 September 2026, sedikitnya ada tiga fenomena alam yang kerap dianggap sebagai “tameng” alami Indonesia.
Ketiganya bekerja dengan mekanisme berbeda, mulai dari bentang alam hingga dinamika laut dan atmosfer.
Fenomena pertama berada di Sulawesi Selatan, yakni kawasan Karst Maros-Pangkep.
Bentang alam yang terbentuk dari batu kapur purba ini memiliki tebing-tebing menjulang dengan struktur yang sangat khas.
Kawasan tersebut dapat berperan sebagai benteng fisik alami.
Tebing-tebing karst yang berdiri vertikal disebut mampu membantu memecah sekaligus menyerap sebagian energi angin ekstrem yang datang dari arah Selat Makassar.
Dengan karakter geografis tersebut, wilayah daratan yang berada di belakang kawasan karst berpotensi mendapatkan perlindungan dari hantaman langsung angin berkekuatan besar.
Selain menjadi bagian penting ekosistem, bentang karst ini menunjukkan bagaimana struktur geologi dapat memberikan fungsi perlindungan alami terhadap lingkungan di sekitarnya.
Fenomena kedua adalah Arus Lintas Indonesia (ARLINDO), yaitu sistem arus laut dalam yang membawa jutaan meter kubik air dari Samudra Pasifik menuju Samudra Hindia.
Pergerakan massa air tersebut berperan dalam menjaga kestabilan suhu perairan Indonesia agar tidak mengalami pemanasan berlebihan.
ARLINDO juga berkaitan dengan batas biologis yang dikenal sebagai Garis Wallace, yang menjadi salah satu faktor penting dalam persebaran fauna endemik di kawasan timur Indonesia.
Sementara itu, fenomena ketiga berkaitan dengan posisi Indonesia yang berada di sekitar garis khatulistiwa. Efek Coriolis di wilayah ekuator memiliki nilai yang sangat kecil.
Dalam mekanisme pembentukan siklon tropis, gaya Coriolis diperlukan untuk membantu terbentuknya rotasi sistem badai.
Karena pengaruh Coriolis sangat lemah di sekitar ekuator, siklon tropis umumnya sulit terbentuk tepat di garis tersebut.
Akibatnya, badai besar yang berkembang di wilayah lain dapat melemah atau bergerak menjauh sebelum mencapai wilayah Indonesia.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.