Al-Kawakibi dan Kritik Tajam tentang Tirani: Saat Agama Bisa Dijadikan Alat Kekuasaan
FAKTANASIONAL.NET - Kalimat “Banyak tokoh agama justru bersekutu dengan penguasa untuk membodohi umatnya sendiri” menjadi salah satu gagasan keras yang dikaitkan dengan pemikiran Abdurrahman al-Kawakibi, ulama dan intelektual reformis Muslim dari Al…
FAKTANASIONAL.NET - Kalimat “Banyak tokoh agama justru bersekutu dengan penguasa untuk membodohi umatnya sendiri” menjadi salah satu gagasan keras yang dikaitkan dengan pemikiran Abdurrahman al-Kawakibi, ulama dan intelektual reformis Muslim dari Aleppo.
Pada abad ke-19, al-Kawakibi dikenal berani mengkritik praktik kekuasaan yang dianggap mengekang kebebasan berpikir masyarakat.
Gagasannya kemudian terangkum dalam Panduan Melawan Tirani, sebuah karya yang membedah cara kerja tirani secara sistematis.
Al-Kawakibi melihat bahwa kekuasaan yang represif tidak selalu bertahan hanya melalui tekanan politik.
Dalam analisisnya, tirani politik dapat memperoleh dukungan dari tirani agama ketika ajaran keagamaan dimanfaatkan untuk memberikan pembenaran terhadap kekuasaan.
Dalam kondisi tersebut, masyarakat bukan hanya dibatasi secara politik, tetapi juga dapat kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis.
Dalil agama yang seharusnya menjadi sumber pencerahan justru berpotensi digunakan untuk memperkuat kepatuhan kepada penguasa.
Dikutip dari berbagi sumber, al-Kawakibi juga menilai bahwa rezim otoriter cenderung memusuhi ilmu pengetahuan. Sebab, masyarakat yang memperoleh pendidikan dan mampu berpikir kritis dinilai lebih sulit dikendalikan.
Pendidikan dan Kesadaran sebagai Jalan Melawan Tirani
Al-Kawakibi tidak menawarkan pemberontakan bersenjata sebagai jalan utama. Ia justru menempatkan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kesadaran masyarakat sebagai bagian penting dalam menghadapi tirani.
Menurut pemikirannya, perubahan tidak cukup dilakukan dengan mengganti penguasa. Masyarakat juga perlu membangun kedaulatan berpikir agar tidak menjadi bagian dari sistem penindasan.
Abdurrahman al-Kawakibi (1854–1902 M) merupakan intelektual reformis Muslim asal Aleppo. Ia pernah menjadi birokrat dan jurnalis serta dikenal vokal mengkritik korupsi dan tirani Dinasti Utsmaniyah.
Tekanan politik dan sensor membuat al-Kawakibi kemudian hijrah ke Kairo pada 1898. Di kota tersebut, ia tetap menyuarakan gagasan mengenai kebebasan dan reformasi hingga wafat pada usia 48 tahun.
Referensi yang diberikan menyebut kematiannya diduga kuat akibat diracun oleh agen rezim Utsmani. Namun, bagian tersebut merupakan klaim dalam referensi dan perlu dibedakan dari fakta biografis yang telah terdokumentasi.
Warisan pemikiran al-Kawakibi hingga kini kerap dibaca sebagai kritik terhadap absolutisme serta pembelaan terhadap kebebasan berpikir dan pentingnya pendidikan masyarakat.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.