Fakta Nasional

Alarm Bahaya Deforestasi di Balik Duka 34 Warga Sumut yang Gugur, 52 Dinyatakan Hilang Dihantam Bencana

SUMUT, FAKTANASIONAL.NET - Rangkaian bencana hidrometeorologi yang menerjang Sumatera Utara menyisakan kepedihan mendalam. Hingga kini, tercatat 34 warga meninggal dunia dan 52 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Di balik angka korban jiwa yang t…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: admin Editor: Redaksi 📍 Nasional Friday, 28 November 2025 📖 1 menit
Alarm Bahaya Deforestasi di Balik Duka 34 Warga Sumut yang Gugur, 52 Dinyatakan Hilang Dihantam Bencana
Duka menyelimuti Sumut, 34 warga meninggal dan 52 hilang diterjang bencana. Walhi ingatkan alarm bahaya deforestasi di hulu yang perparah dampak cuaca ekstrem. (Dok. BPBD Tapanuli Tengah)

SUMUT, FAKTANASIONAL.NET - Rangkaian bencana hidrometeorologi yang menerjang Sumatera Utara menyisakan kepedihan mendalam.

Hingga kini, tercatat 34 warga meninggal dunia dan 52 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Di balik angka korban jiwa yang terus bertambah, bencana ini menyalakan "alarm bahaya" mengenai kondisi hutan yang kian kritis di wilayah hulu.

Berdasarkan data pemutakhiran Polda Sumatera Utara, banjir bandang dan tanah longsor telah meluas ke 12 kabupaten/kota.

Kabupaten Tapanuli Selatan menjadi wilayah dengan dampak kemanusiaan terberat, mencatat 17 korban gugur, disusul Kota Sibolga dengan 8 korban jiwa.

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Ferry Walintukan, merinci bahwa total kejadian bencana mencapai 148 kasus.

"Didominasi tanah longsor sebanyak 86 kejadian dan banjir 53 kejadian," jelasnya.
Pesan dari Alam yang Rusak

Tingginya fatalitas dalam bencana ini memicu sorotan tajam dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Utara.

Direktur Eksekutif Walhi Sumut, Rianda Purba, menilai peristiwa ini tidak bisa semata-mata dilihat sebagai "amukan cuaca" akibat siklon tropis, melainkan konsekuensi dari degradasi lingkungan yang kronis.

Indikasi ini terlihat jelas dari material yang dihanyutkan air.

Lumpur pekat yang menimbun rumah warga dan batang-batang kayu besar yang berserakan menjadi bukti hilangnya vegetasi penyangga di hulu Sungai Batang Toru.

Hutan yang seharusnya berfungsi menahan tanah dan menyerap air, dinilai telah kehilangan daya dukungnya akibat pembukaan lahan yang masif.

Walhi secara spesifik menyoroti aktivitas industri ekstraktif dan perluasan konsesi pertambangan di kawasan tangkapan air sebagai faktor yang memperburuk kerentanan wilayah tersebut.

Tanah bukaan tanpa akar pohon pengikat menjadi sangat labil saat dihantam curah hujan tinggi, memicu longsoran yang menelan korban jiwa.

Pihak perusahaan tambang di wilayah terkait dalam keterangannya belum menanggapi secara spesifik isu deforestasi ini, dan menyatakan fokus saat ini adalah pada dukungan penanganan darurat bagi para korban.

Saat ini, sebanyak 1.030 personel gabungan terus berjibaku melakukan pencarian korban yang masih hilang.

Tragedi gugurnya 34 warga Sumut ini menjadi pengingat pahit bahwa kegagalan menjaga kelestarian hutan harus dibayar dengan harga yang sangat mahal.

(*Mira)


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK