AMPUN... Pelajar Batui 5, Sulteng Harus Seberangi Sungai Tiap Sekolah
FAKTANASIONAL.NET - Ratusan siswa SMP Negeri Satu Atap (Satap) Batui 5, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah harus bertaruh keselamatan setiap hari dengan menyeberangi sungai berarus deras untuk pergi dan pulang sekolah. Kondisi itu sudah berlangsung…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Ratusan siswa SMP Negeri Satu Atap (Satap) Batui 5, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah harus bertaruh keselamatan setiap hari dengan menyeberangi sungai berarus deras untuk pergi dan pulang sekolah.
Kondisi itu sudah berlangsung puluhan tahun lantaran belum adanya akses yang menghubungkan pemukiman siswa dengan sekolah.
BACA JUGA
BGN Perluas MBG ke Wilayah 3T, 15.000 Sekolah di Maluku dan Papua Jadi Prioritas
"Anak murid saya kalau mau pergi ke sekolah harus lewat jalur sungai tiap hari, pergi sekolah maupun pulang sekolah," ujar Tenaga Pendidik SMP Negeri Satap Batui 5, Jumrah, kepada wartawan.
Menurut Jumrah, kondisi sungai sangat bergantung pada cuaca. Saat hujan deras mengguyur, debit air meningkat hingga meluap dan membuat siswa tidak dapat menyeberang.
"Beberapa kali siswanya tidak bisa ke sekolah gara-gara itu. Guru-guru ada toleransi karena sungai meluap," ujarnya.
Ia mengungkapkan, situasi tersebut bahkan pernah mengganggu pelaksanaan ujian karena sejumlah siswa terhalang banjir sungai. Hingga kini, kata Jumrah, belum tersedia jembatan maupun fasilitas penyeberangan yang aman.
Saat debit air rendah, siswa masih bisa menyeberang. Namun ketika arus sungai deras, keselamatan mereka menjadi taruhan.
"Bahaya karena nyawa taruhannya apalagi naik air," katanya.
Pun jika musim kemarau, dan para pelajar menyeberangi sungai, maka mereka basah kuyup. Pakaian mereka kering di badan, menjelang mereka pulang sekolah. Jadi, selama belajar di sekolah mereka dalam kondisi pakaian basah.
Pihak sekolah pun kerap mengambil langkah antisipasi ketika hujan deras. Salah satunya memulangkan siswa lebih awal agar mereka dapat menyeberang sebelum debit air meningkat.
"Belum waktu pulang sekolah. Tapi karena hujan deras kami berinisiatif kasi pulang, kami kawal sampai pinggir sungai, ternyata di sebelah sungai orang tuanya sudah menunggu," tutur Jumrah.
Ini lebih praktis dan enak bagi semua pelajar dan guru. Karena, mereka cuma setengah sekolah. Tidak sekolah penuh. Jadi, mereka lebih senang.
BACA JUGA
Gaji Guru 2027 Tak Naik, Pemerintah Alihkan Fokus ke Sekolah dan Program MBG
Menurutnya, kondisi tersebut bukan persoalan baru. Sejak sebelum dirinya mengajar di SMPN Satap Batui 5, belasan tahun lalu, siswa sudah harus melewati sungai setiap hari untuk mengakses sekolah.
Jumrah berharap pemerintah segera membangun jembatan agar para siswa dapat berangkat dan pulang sekolah dengan aman tanpa harus mempertaruhkan keselamatan.
"Buatkan jembatan atau apa saja itu yang penting anak didik saya bisa ke sekolah tanpa melewati air sungai," harapnya.
Tentu saja, kondisi ini masih sangat terbelakang. Masih seperti masyarakat zaman purba. Sangat jauh dari cita-cita Indonesia Emas. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.