Ancaman El Nino Hingga Pertengahan 2026, BPBD Kalbar Dorong Modifikasi Cuaca dan Perkuat Stok Pangan
FAKTANASIONAL.NET – Wilayah Kalimantan Barat diprediksi akan terus berada di bawah bayang-bayang fenomena El Nino hingga pertengahan tahun 2026. Kondisi anomali cuaca ini memicu peringatan dini terkait risiko gagal panen serta meningkatnya potensi K…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET – Wilayah Kalimantan Barat diprediksi akan terus berada di bawah bayang-bayang fenomena El Nino hingga pertengahan tahun 2026.
Kondisi anomali cuaca ini memicu peringatan dini terkait risiko gagal panen serta meningkatnya potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), khususnya di area lahan gambut yang luas.
Koordinator Harian Pusdalops Penanggulangan Bencana BPBD Kalbar, Daniel, menyatakan bahwa durasi El Nino yang cukup panjang menuntut langkah mitigasi konkret dan kolaborasi intensif antara pemerintah pusat dan daerah.
Fokus pada Cadangan Pangan
Salah satu dampak yang paling diwaspadai adalah stabilitas pangan.
Daniel menegaskan bahwa penguatan stok pangan nasional dan daerah menjadi prioritas utama untuk mengantisipasi penurunan produktivitas pertanian akibat kekeringan ekstrem.
“Kalau berdasarkan informasi yang kami terima El Nino akan terjadi sampai pertengahan 2026. Nah untuk itu pemerintah, baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota pasti sudah melakukan upaya antisipasi, misalnya melakukan penguatan cadangan pangan,” ujar Daniel dalam keterangannya, Kamis (26/3/2026).
Dorong Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC)
Mengingat kerawanan lahan gambut di Kalimantan Barat yang mudah terbakar saat kekeringan, BPBD Kalbar berharap adanya intervensi teknologi dari pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Langkah pembasahan lahan melalui hujan buatan dinilai lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan pemadaman darat saat api sudah meluas.
“Kita mendorong supaya pemerintah pusat melalui BNPB nanti bisa melakukan teknologi modifikasi cuaca. Jadi tujuannya adalah melakukan pembasahan di lahan gambut yang berpotensi terbakar di Kalimantan Barat,” tambahnya.
Optimalisasi Patroli Terpadu
Sambil menunggu dukungan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), saat ini kekuatan personel di lapangan terus disiagakan.
Pengawasan manual melalui patroli darat menjadi tumpuan utama dalam mendeteksi titik api secara dini agar tidak berkembang menjadi bencana kabut asap.
“Saat ini kita sedang mengoptimalkan operasi patroli darat yang dilakukan secara terpadu oleh BPBD, kemudian TNI, Polri, dan juga masyarakat atau relawan,” pungkas Daniel.
Sinergi antara aparat dan relawan ini diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi dan kesehatan warga Kalimantan Barat dari ancaman polusi asap yang kerap menyertai fenomena El Nino.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.