Antisipasi Banjir Kiriman, Bekasi Perkuat Sistem Peringatan Dini di Hulu dan Hilir
FAKTANASIONAL.NET – Pemerintah Kota Bekasi bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) resmi memperkuat mitigasi bencana melalui pemasangan Sistem Peringatan Dini atau Early Warning System (EWS) di sepanjang aliran sungai utama. Langkah ini…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET – Pemerintah Kota Bekasi bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) resmi memperkuat mitigasi bencana melalui pemasangan Sistem Peringatan Dini atau Early Warning System (EWS) di sepanjang aliran sungai utama.
Langkah ini diambil guna meminimalisir dampak banjir yang kerap melanda pemukiman warga akibat luapan Kali Bekasi.
Pemasangan sensor pemantau air ini dilakukan di titik-titik strategis, mulai dari wilayah hulu di Kabupaten Bogor seperti Cibongas dan Cileungsi, titik pertemuan sungai (P2C), hingga Bendung Prisdo di Bekasi Timur.
Teknologi Pemantauan Real-Time
Berbeda dengan sistem manual, EWS terbaru ini mengintegrasikan teknologi Automatic Water Level Recorder (AWLR), sensor curah hujan, dan kamera pemantau.Seluruh data tersebut masuk ke dalam sebuah dashboard visual yang dapat diakses secara langsung oleh petugas BPBD untuk memantau debit air secara akurat.
Selain sensor, sirine peringatan juga telah dipasang di kawasan padat penduduk yang memiliki riwayat banjir tinggi, di antaranya:
- Bekasi Jaya (Bekasi Timur)
- Jaka Kencana (Bekasi Selatan)
- Teluk Pucung (Bekasi Utara)
- Mitra Lestari (Jatiasih)
Belajar dari Lumpuhnya Kota di Tahun 2025
Walikota Bekasi, Tri Adhianto Tjahyono, mengungkapkan bahwa penguatan teknologi ini merupakan respons atas evaluasi besar-besaran pasca banjir hebat yang melumpuhkan Bekasi pada tahun 2025 lalu.Saat itu, pusat pemerintahan di Jalan Ahmad Yani bahkan sempat terendam hingga dua hari.
"Dengan teknologi tersebut, pemerintah dapat memperkirakan waktu kedatangan aliran air di titik-titik tertentu secara lebih akurat sehingga langkah antisipasi dapat dilakukan secara tepat waktu," ujar Tri saat meninjau Bendung Prisdo, Jumat (6/3).
Ia juga menambahkan bahwa menjelang libur Lebaran mendatang, seluruh personel kebencanaan tetap disiagakan penuh tanpa kebijakan Work From Home (WFH) guna memantau potensi kenaikan air.
Respon Masyarakat: Antara Panik dan Siaga
Keberadaan sirine otomatis ini sempat memicu reaksi beragam dari warga.Eko Santoso, seorang warga Pondok Gede Permai, mengakui bahwa bunyi sirine pertama kali sempat membuat lingkungan sekitar panik karena belum terbiasa.
"Sirine pertama kali berbunyi sempat menimbulkan kepanikan karena warga belum terbiasa dengan sistem tersebut. Namun, sirine tersebut sebenarnya menjadi tanda adanya potensi kenaikan debit air kiriman dari wilayah hulu, sehingga warga dapat segera bersiap mengamankan barang berharga dan kendaraan ke tempat yang lebih aman," ungkap Eko.Meski dinilai sangat membantu, warga berharap pemerintah tidak abai dalam pemeliharaan alat.
Eko menekankan pentingnya kalibrasi sensor secara berkala agar data yang diberikan tetap presisi dan tidak memberikan peringatan palsu.
BNPB memprediksi periode akhir musim hujan akan berlangsung hingga akhir April 2026.
Dengan adanya EWS yang bekerja otomatis tanpa operator ini, diharapkan jeda waktu evakuasi bagi warga menjadi lebih panjang sehingga risiko kerugian materil maupun korban jiwa dapat ditekan.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.