Anwar Congo dan Jejak Kelam 1965 yang Diungkap The Act of Killing
FAKTANASIONAL.NET - Anwar Congo dikenal sebagai salah satu pelaku eksekusi dalam kekerasan massal 1965-1966 di Indonesia. Sosoknya kemudian menjadi perhatian luas setelah tampil sebagai tokoh utama dalam film dokumenter The Act of Killing karya sutr…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Anwar Congo dikenal sebagai salah satu pelaku eksekusi dalam kekerasan massal 1965-1966 di Indonesia.
Sosoknya kemudian menjadi perhatian luas setelah tampil sebagai tokoh utama dalam film dokumenter The Act of Killing karya sutradara Joshua Oppenheimer.
Dikutip dari Rmol, Congo tumbuh di sekitar Medan dan meninggalkan bangku sekolah ketika berusia 12 tahun. Setelah itu, ia masuk ke dunia kriminal.
Aktivitasnya bermula dari perdagangan tiket bioskop, kemudian berkembang ke pemerasan, perjudian, penyelundupan, hingga menjadi pembunuh bayaran.
Ketika pergolakan politik 1965 berlangsung, Congo bersama kelompoknya direkrut oleh militer untuk memburu orang-orang yang dituding memiliki hubungan dengan komunisme.
Kelompok tersebut dikenal sebagai Pasukan Kodok. Mereka melakukan interogasi, penyiksaan, serta pembunuhan terhadap ratusan orang yang dituduh sebagai kelompok kiri.
Kisah Congo kemudian menjadi bagian utama The Act of Killing. Dalam film tersebut, Congo dan rekan-rekannya diminta memerankan kembali tindakan pembunuhan yang pernah mereka lakukan.
Congo bahkan memperagakan metode yang digunakan saat menjalankan aksi tersebut. Ia juga menceritakan bahwa kelompoknya terinspirasi oleh film-film mafia dan western Hollywood.
Proses pembuatan film perlahan membawa Congo kembali berhadapan dengan masa lalunya. Setelah memerankan dirinya sebagai korban yang dicekik menggunakan kawat, ia mengaku mengalami mimpi buruk dan mulai mempertanyakan perbuatannya.
Congo meninggal dunia pada 25 Oktober 2019 dalam usia 78 tahun.
The Act of Killing kemudian memicu perbincangan luas mengenai pembunuhan massal 1965 di Indonesia. Film itu juga mendapat kritik karena dinilai memberikan ruang besar kepada para pelaku untuk menceritakan kembali tindakan mereka.
Sebagai film pendamping, The Look of Silence kemudian mengambil sudut pandang berbeda dengan menyoroti pengalaman para penyintas kekerasan tersebut.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.