BPBD Banjarmasin Peringatkan Untuk Siaga Hadapi Ancaman Kemarau Ekstrem dan Krisis Air 2026
FAKTANASIONAL.NET - Kota Seribu Sungai tengah bersiap menghadapi tantangan alam yang serius. Berdasarkan data BMKG, seluruh wilayah Indonesia, termasuk Banjarmasin, diprediksi akan memasuki fase musim kemarau ekstrem pada tahun ini. Kepala Pelaksana…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Kota Seribu Sungai tengah bersiap menghadapi tantangan alam yang serius. Berdasarkan data BMKG, seluruh wilayah Indonesia, termasuk Banjarmasin, diprediksi akan memasuki fase musim kemarau ekstrem pada tahun ini.
Kepala Pelaksana BPBD Banjarmasin, Husni Tambrin, memberikan peringatan keras bahwa kondisi tahun 2026 akan jauh lebih menantang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Ancaman Kebakaran Lahan di Tengah Pemukiman
"Tahun 2026 ini berbeda. Kemaraunya diprediksi lebih panjang dan lebih kering. Kita harus waspada sejak dini," tegas Husni, dikutip pada 23 April 2026.
Meski Banjarmasin tidak didominasi hutan luas, risiko kebakaran lahan kering tetap menghantui, terutama di wilayah Banjarmasin Selatan dan Banjarmasin Utara.
Dua kecamatan ini memiliki vegetasi kering yang sangat rentan. Mengaca pada tahun 2023 yang mencatat 41 titik api, penyebab utama justru datang dari kelalaian manusia, yakni membakar sampah sembarangan.
Di bawah pengaruh fenomena El Nino Godzilla, api kecil dari sampah dapat dengan cepat menjalar ke ilalang, menciptakan kebakaran hebat yang memicu kabut asap beracun.
Kemarau diprediksi mulai menyapa pada Mei mendatang dengan puncak suhu ekstrem pada Agustus. Selain api, warga Banjarmasin dibayangi ancaman intrusi air laut.
Saat debit sungai menyusut, kadar garam pada sumber air baku PDAM akan meningkat. Husni mengimbau masyarakat untuk segera melakukan manajemen air mandiri, seperti penggunaan tandon, guna mengantisipasi krisis air bersih.
BPBD Banjarmasin memastikan layanan darurat 112 tetap siaga 24 jam. Namun, kesiagaan ini menuntut peran aktif warga untuk berhenti melakukan aktivitas pembakaran lahan sekecil apa pun.
Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat adalah kunci utama agar bencana lingkungan ini tidak melumpuhkan aktivitas kota. Mari mulai berhemat air dan jaga lingkungan kita tetap basah sebelum puncak panas tiba.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.