Fakta Nasional

Bukan Cuma Sehat, Survei Populix Ungkap Olahraga Kini Jadi Ajang 'Networking' dan Pelarian Stres Pekerja Urban

FAKTANASIONAL.NET — Aktivitas olahraga di kalangan pekerja Indonesia kini telah bergeser makna. Tidak lagi sekadar instrumen untuk menjaga kebugaran fisik, olahraga mulai bertransformasi menjadi bagian dari gaya hidup sosial, ruang mencari relasi bi…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Jessy Serianda Editor: Redaksi 📍 Nasional Wednesday, 27 May 2026 📖 2 menit
Bukan Cuma Sehat, Survei Populix Ungkap Olahraga Kini Jadi Ajang 'Networking' dan Pelarian Stres Pekerja Urban
Survei terbaru Populix menunjukkan bahwa olahraga kini telah bergeser fungsi menjadi ruang sosial, pelepas stres, dan sarana membangun jejaring profesional bagi para pekerja./(pixabay)

FAKTANASIONAL.NET — Aktivitas olahraga di kalangan pekerja Indonesia kini telah bergeser makna. Tidak lagi sekadar instrumen untuk menjaga kebugaran fisik, olahraga mulai bertransformasi menjadi bagian dari gaya hidup sosial, ruang mencari relasi bisnis, hingga sarana berkumpul seusai penat menghadapi rutinitas kantor.

Fenomena menarik ini terekam dalam survei terbaru yang dirilis oleh Populix terhadap 840 pekerja profesional di Indonesia. Mayoritas responden dalam riset ini didominasi oleh kelompok usia produktif 26–36 tahun dengan latar belakang ekonomi kelas menengah ke atas.

"Olahraga sekarang bukan cuma soal kesehatan fisik, tapi juga jadi ruang sosial," ujar Quantitative Research Manager Populix, Retno Gumelar, dalam acara Populix Time-Out Briefing di Jakarta, Senin (26/5/2026).

Retno menilai, olahraga saat ini semakin melekat erat dengan gaya hidup urban para pekerja yang sehari-harinya dipenuhi oleh tekanan tenggat waktu (deadline) serta rutinitas kerja yang padat.

Baca Juga: Komisi X DPR Apresiasi MoU Kemenpora-Kemendikdasmen Perkuat Ekosistem Olahraga di Sekolah

Multifungsi Olahraga: Antara 'Me Time' dan Membangun Jejaring

Berdasarkan data survei, motivasi para pekerja untuk menggerakkan tubuh sangat bervariasi dan cenderung mengarah pada pemenuhan kebutuhan emosional serta sosial:

  • 60 persen responden berolahraga sebagai sarana me time atau meluangkan waktu untuk diri sendiri.

  • 53 persen menjadikannya sebagai quality time bersama pasangan atau keluarga tercinta.

  • 40 persen memanfaatkan momen olahraga untuk membangun relasi dan jejaring profesional (networking).

  • 39 persen menjadikannya sebagai aktivitas komunal bersama teman-teman.

Menariknya, tren ini juga mengubah kebiasaan masyarakat setelah membakar kalori. Sebanyak 39 persen responden memilih untuk nongkrong atau minum kopi (ngopi) usai berolahraga, sementara 37 persen lainnya melanjutkan aktivitas dengan makan bersama teman atau komunitas mereka.

Tantangan Konsistensi di Tengah Padatnya Jadwal Kerja

Secara umum, kesadaran pekerja Indonesia untuk mengadopsi pola hidup sehat tergolong sangat tinggi, di mana lebih dari 80 persen responden mengaku rutin berolahraga. Kendati demikian, mempertahankan konsistensi tetap menjadi ganjalan utama.

Faktor-faktor seperti fleksibilitas waktu kerja, lokasi kantor yang jauh, hingga jadwal pertemuan yang sulit diprediksi kerap membuat para pekerja kesulitan menjaga kedisiplinan berolahraga.

"Bukan karena mereka tidak mau hidup sehat, tapi sering terhambat pekerjaan dan waktu," kata Retno menekankan.

Alasan itulah yang membuat aktivitas olahraga yang fleksibel dan mudah diakses kini jauh lebih diminati. Jogging dan jalan santai masih menempati urutan teratas sebagai olahraga paling populer.

Namun, olahraga berbasis komunitas seperti yoga, pilates, diving, hingga olahraga raket seperti badminton dan padel terus menunjukkan pertumbuhan pesat karena menawarkan interaksi sosial yang tinggi.

Rela Merogoh Kocek Demi Gaya Hidup Sehat

Tingginya antusiasme ini berdampak langsung pada meningkatnya daya beli pekerja terhadap produk-produk penunjang olahraga. Para profesional muda kini tidak ragu menyisihkan anggaran belanja mereka demi menunjang penampilan dan performa saat berolahraga.

Peta belanja produk olahraga para pekerja tercatat sebagai berikut:

  • 72 persen responden rutin membeli pakaian olahraga khusus.

  • 67 persen mengalokasikan dana untuk membeli sepatu olahraga.

  • 30 persen berinvestasi pada gawai penunjang kesehatan seperti smartwatch atau fitness tracker.

Riset ini menyimpulkan bahwa tantangan utama sektor kesehatan pekerja urban saat ini bukan lagi membangun niat, melainkan bagaimana menciptakan ekosistem olahraga yang lebih fleksibel, mudah diakses, serta mampu menyatu secara organik dengan ritme kerja harian mereka.


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK