Bukan Sekadar Limbah, Sampah Organik Bandung Kini Jadi "Tambang" Green Jobs bagi Milenial
FAKTANASIONAL.NET, BANDUNG – Di tengah ancaman krisis lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA), Kota Bandung mulai melirik potensi ekonomi dari 1.500 ton sampah yang dihasilkan setiap harinya. Menariknya, fokus kini dialihkan pada 44,51 persen sampah org…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET, BANDUNG – Di tengah ancaman krisis lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA), Kota Bandung mulai melirik potensi ekonomi dari 1.500 ton sampah yang dihasilkan setiap harinya.
Menariknya, fokus kini dialihkan pada 44,51 persen sampah organik—seperti sisa makanan dan dedaunan—yang selama ini dianggap beban, namun kini bertransformasi menjadi peluang kerja baru melalui program Green Jobs Class.
Program hasil kolaborasi Kementerian Ketenagakerjaan via BBPVP Bandung bersama Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan, Green Future Guardian Chapter, dan Inovasi Muda ini, secara khusus membidik generasi muda untuk menjadi pelopor di sektor ekonomi hijau.
Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Afriansyah Noor, yang hadir dalam kegiatan di BBPVP Bandung tersebut menegaskan bahwa pengelolaan lingkungan tidak lagi bisa dipisahkan dari isu ketenagakerjaan.
Baca Juga: Bali Terancam Krisis Sampah di Tengah Puncak Kunjungan Wisata, Wapres Soroti Persoalan Sampah
Program ini hadir sebagai jembatan antara keterampilan teknis dengan kesadaran ekologis.
“Melalui pengelolaan sampah yang baik, beban TPA dapat dikurangi, dampak lingkungan dapat ditekan, serta dihasilkan kompos yang memiliki nilai guna. Inilah contoh bagaimana persoalan lingkungan dapat diubah menjadi peluang kerja yang produktif,” ujar Wamenaker dalam keterangan tertulisnya, Selasa (17/2/2026).
Sebanyak 30 peserta yang terdiri dari mahasiswa serta anggota komunitas lokal seperti Gorong-gorong Bersih (GOBER) dan Gerakan Olah Sampah (GASLAH) diterjunkan dalam pelatihan intensif ini.
Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi langsung mempraktikkan pengolahan sampah organik yang selama ini kerap terabaikan di hilir.
Dengan pengolahan yang tepat, sampah organik tersebut diubah menjadi kompos berkualitas.
Langkah ini dinilai strategis karena jika 44,51 persen sampah organik Bandung berhasil dikelola di tingkat komunitas, maka volume sampah yang dikirim ke TPA akan berkurang secara drastis.
Afriansyah berharap para alumni pelatihan ini mampu menjadi motor penggerak di lingkungan masing-masing.
Investasi pada skill pengelolaan sampah ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem green jobs di tingkat akar rumput, di mana pelestarian bumi berjalan beriringan dengan kesejahteraan ekonomi.
Program ini menjadi bukti bahwa solusi atas masalah urban seperti sampah tidak selalu harus berupa infrastruktur raksasa, melainkan bisa dimulai dari peningkatan kompetensi sumber daya manusia yang mampu melihat peluang di balik tumpukan limbah.
Baca Juga: Mendiktisaintek Brian Yuliarto Apresiasi Sistem Pengolahan Sampah Terintegrasi UGM
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.