Fakta Nasional

Bunga Raksasa Tanpa Batang yang Ngumpet di Hutan Banyuwangi

FAKTANASIONAL.NET - Di tengah hutan Banyuwangi Utara, sesuatu yang tampak seperti bunga raksasa muncul dari tanah. Tidak ada batang. Tidak ada daun. Tidak ada akar seperti tumbuhan biasa. Namun ketika bunga itu mekar, ukurannya membuat orang yang me…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Djono W Oesman Editor: Redaksi 📍 Nasional Saturday, 15 August 2026 📖 2 menit
Bunga Raksasa Tanpa Batang yang Ngumpet di Hutan Banyuwangi
Rafflesia zollingeriana, bunga raksasa tanpa batang di Banyuwangi, Jawa Timur. Foto: Antara

FAKTANASIONAL.NET - Di tengah hutan Banyuwangi Utara, sesuatu yang tampak seperti bunga raksasa muncul dari tanah.

Tidak ada batang. Tidak ada daun. Tidak ada akar seperti tumbuhan biasa.

Namun ketika bunga itu mekar, ukurannya membuat orang yang menemukannya berhenti dan memperhatikan.

Itulah Rafflesia zollingeriana, salah satu tumbuhan langka yang menjadi bagian penting dari keanekaragaman hayati di Jawa.

Pada April 2025, tim Resor KSDA Wilayah 13 bersama peneliti BRIN menyusuri kawasan hutan alam sekunder di kaki Pegunungan Ijen, Banyuwangi Utara, Jawa Timur.

Di kawasan RPH Gombeng, Kalipuro, Banyuwangi, ditemukan tiga bunga yang sedang mekar. Kawasan tersebut juga diketahui memiliki sedikitnya puluhan titik koloni Rafflesia zollingeriana.

Yang menarik, keberadaan bunga ini tidak selalu mudah ditemukan.

Sebagian besar hidupnya berlangsung tanpa bentuk yang dapat dilihat manusia seperti tumbuhan pada umumnya.

Rafflesia merupakan tumbuhan parasit.

Ia bergantung kepada tumbuhan inang dari kelompok tertentu untuk memperoleh nutrisi. Karena tidak mempunyai daun dan kemampuan fotosintesis seperti tanaman biasa, kehidupannya sangat berbeda dengan pohon, semak atau rumput di sekelilingnya.

Kemunculannya di hutan juga sangat bergantung pada siklus biologis.

Karena itu, ketika bunga akhirnya mekar, kesempatan melihatnya merupakan peristiwa yang relatif langka.

Di Banyuwangi, keberadaan Rafflesia zollingeriana bukan sekadar fenomena botani.

Ia juga menjadi indikator penting bahwa sebagian habitat alami masih menyimpan kekayaan hayati.

Laporan ANTARA pada Mei 2025 menyebut bunga tersebut ditemukan di petak 68a kawasan KPH Banyuwangi Utara, dengan persebaran pada puluhan titik. Wisatawan dan masyarakat datang untuk melihat bunga yang hanya muncul pada periode tertentu itu.

Namun ada satu hal yang membuat bunga ini semakin menarik: baunya.

Rafflesia terkenal dengan aroma yang menyerupai bau daging membusuk.

Bagi manusia, bau itu menjijikkan.

Bagi tumbuhan tersebut, bau justru mempunyai fungsi.

Aroma busuk membantu menarik serangga tertentu yang kemudian berperan dalam proses reproduksi.

Dengan kata lain, sesuatu yang bagi manusia dianggap buruk justru merupakan strategi kehidupan bagi tumbuhan tersebut.

Ia memperlihatkan bahwa alam tidak mengikuti ukuran keindahan manusia.

Manusia menyukai bunga harum. Rafflesia justru menggunakan bau busuk.

Manusia menganggap tumbuhan harus memiliki batang dan daun. Rafflesia tidak memilikinya.

Manusia membayangkan tumbuhan tumbuh perlahan-lahan menjadi besar.

Rafflesia menjalani sebagian besar kehidupannya tersembunyi di dalam jaringan tumbuhan inang, kemudian tiba-tiba muncul sebagai bunga.

Kehidupan Rafflesia juga menunjukkan pentingnya habitat.

Jika tumbuhan inangnya hilang, Rafflesia ikut terancam.

Jadi, melindungi bunga tersebut tidak cukup dengan melindungi bunganya.

Habitat dan tumbuhan inangnya juga harus dipertahankan.

Karena itulah penemuan beberapa titik Rafflesia zollingeriana di Banyuwangi bukan hanya berita tentang “bunga langka mekar”.

Ia adalah berita tentang sebuah ekosistem yang masih mempunyai rahasia.

Hutan yang dari kejauhan terlihat biasa ternyata menyimpan organisme yang tidak terlihat selama sebagian besar siklus hidupnya.

Dan ketika waktunya tiba, bunga itu muncul. Hanya sebentar.

Setelah itu kembali menghilang. (*)


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK