Fakta Nasional

Cecak Pecel Madiun, Spesies Baru Ditemukan

FAKTANASIONAL.NET - Bayangkan sebuah negara yang selama setahun menemukan 51 spesies baru. Itulah yang dilaporkan Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN pada awal 2026 berdasarkan hasil penelitian sepanjang 2025. Dari 51 spesies tersebut, 32 mer…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Djono W Oesman Editor: Redaksi 📍 Nasional Saturday, 15 August 2026 📖 2 menit
Cecak Pecel Madiun, Spesies Baru Ditemukan
Cecak Pecel Madiun dibandingkan dengan tangan manusia dewasa. Foto: Mongabay

FAKTANASIONAL.NET - Bayangkan sebuah negara yang selama setahun menemukan 51 spesies baru. Itulah yang dilaporkan Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN pada awal 2026 berdasarkan hasil penelitian sepanjang 2025.

Dari 51 spesies tersebut, 32 merupakan fauna, 16 flora dan tiga mikroorganisme. Spesimen diperoleh dari berbagai wilayah Indonesia, mulai Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua.

Yang membuat daftar ini menarik bukan hanya jumlahnya. Beberapa nama spesies baru juga sangat dekat dengan kehidupan manusia Indonesia.

Ada Cyrtodactylus pecelmadiun, yang diberi nama populer “Cecak Jari Bengkok Pecel Madiun”.

Ada pula spesies ikan cupang yang populer disebut Cupang Mulyadi.

Nama-nama tersebut menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak selalu harus terdengar asing dan jauh dari masyarakat.

Para peneliti dapat menggunakan nama yang berhubungan dengan lokasi, karakter spesies, atau bahkan orang tertentu yang terkait dengan penelitian.

Tetapi di balik nama yang terdengar lucu, proses penemuannya tidak lucu.

Peneliti harus melakukan survei, mengumpulkan spesimen, memeriksa karakter morfologi, membandingkannya dengan spesies yang sudah diketahui dan melakukan kajian ilmiah.

Temuan tersebut kemudian dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional.

Dalam daftar flora, misalnya, terdapat Chiloschista tjiasmantoi, Homalomena adei, Homalomena pistioides, Begonia antoi, Syzygium halmaherense dan beberapa spesies lainnya.

Sedangkan kelompok fauna mencakup serangga, ikan, amfibi, reptil, moluska dan kelompok lainnya.

Artinya, Indonesia bukan hanya menemukan satu jenis organisme yang bentuknya sangat aneh.

Penemuan berlangsung di banyak kelompok kehidupan.

Hal tersebut memberi gambaran mengenai betapa besarnya pekerjaan para ahli taksonomi.

Satu hutan dapat menyimpan puluhan bahkan ratusan organisme yang belum pernah diberi nama secara ilmiah.

Masalahnya, proses penemuan sering kali jauh lebih lambat dibandingkan perubahan habitat.

Di sinilah muncul paradoks.

Sebuah spesies bisa saja baru diumumkan sebagai “spesies baru” ketika habitatnya sudah mengalami tekanan.

Para ilmuwan bahkan mengingatkan bahwa penemuan spesies harus berjalan beriringan dengan konservasi. Kepala PRBE BRIN Arif Nurkanto menyampaikan bahwa masih banyak kekayaan biodiversitas Indonesia yang belum terungkap.

Dengan kata lain, angka 51 bukan berarti Indonesia hanya mempunyai 51 spesies yang belum dikenal.

Sebaliknya. Angka itu justru menunjukkan bahwa masih banyak yang belum diketahui.

Indonesia adalah negara kepulauan.

Setiap pulau memiliki sejarah evolusi dan lingkungan yang berbeda.

Papua berbeda dengan Jawa. Sulawesi berbeda dengan Sumatra. Kalimantan berbeda dengan Maluku.

Perbedaan tersebut menghasilkan peluang munculnya spesies endemik.

Bagi masyarakat awam, penemuan spesies baru mungkin terasa seperti berita akademik.

Tetapi sebenarnya dampaknya jauh lebih besar.

Sebelum sebuah spesies diberi nama, ia mungkin tidak masuk dalam prioritas konservasi tertentu.

Setelah identitasnya diketahui, ilmuwan dapat mulai mempelajari populasinya, habitatnya, ancamannya dan status perlindungannya.

Jadi, nama adalah langkah pertama.

Bukan langkah terakhir.

Dan ada satu hal yang paling menarik dari cerita 51 spesies baru tersebut.

Indonesia ternyata masih penuh dengan makhluk yang hidup berdampingan dengan manusia tanpa benar-benar kita kenal.

Di balik kebun, hutan, sungai dan gunung, mungkin ada organisme yang sudah hidup selama ribuan tahun.

Manusia baru sekarang menyadari bahwa mereka ada. (*)


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK