Dana Pembangunan Huntap Naik Jadi 80 Juta Rupiah, BNPB: Alokasi Sebelumnya Dinilai Minim
FAKTANASIONAL.NET - Pemerintah sedang berusaha meningkatkan alokasi dana pembangunan Hunian Tetap (Huntap) in situ bagi korban bencana Hidrometeorologi Sinklon Senyar di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh sebesar Rp60 juta per unit menjadi Rp80 j…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Pemerintah sedang berusaha meningkatkan alokasi dana pembangunan Hunian Tetap (Huntap) in situ bagi korban bencana Hidrometeorologi Sinklon Senyar di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh sebesar Rp60 juta per unit menjadi Rp80 juta per unit.
Bantuan ini akan diberikan untuk rumah dengan kategori rusak berat.
Pada sisi lain setelah hasil tinjauan langsung di lapangan menunjukkan alokasi anggaran awal dinilai terlalu minim saat harga material logistik tinggi.
Selain itu biaya distribusi logistik ke wilayah yang jauh dari pusat kota menjadi faktor utama yang memicu kebutuhan penyesuaian nilai bantuan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Dr. Suharyanto, mengatakan progres pembangunan huntap in situ di Desa Sriwijaya, Kecamatan Kota Kualasimpang, Kabupaten Aceh Tamiang dan di Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur.
Peningkatan nilai bantuan diharapkan dapat menghasilkan kualitas bangunan yang lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak.
Suharyanto mengemukakan bantuan sebesar Rp60 juta per unit dinilai masih minim untuk memenuhi kebutuhan pembangunan rumah, terutama di wilayah Aceh.
Pasalnya, daerah ini memiliki tantangan tersendiri dalam pengadaan dan distribusi material bangunan.
Rapat Tingkat Menteri yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno telah menyepakati upaya peningkatan bantuan tersebut, yang saat ini masih dalam tahap proses pembahasan.
“Apabila nantinya disetujui, baik menjadi Rp65 juta, Rp70 juta, maupun Rp80 juta per unit, tentu kualitas rumah yang dibangun akan semakin baik dan lebih memenuhi kebutuhan masyarakat,” ucap Suharyanto.
Program huntap in situ merupakan salah satu bentuk dukungan pemerintah melalui BNPB bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat akibat bencana.
Dengan skema ini rumah dibangun kembali di atas lahan milik warga dengan tipe bangunan seluas 36 meter persegi (m2).
Setiap unit huntap dilengkapi dua kamar tidur, satu kamar mandi, dan ruang keluarga atau ruang tamu.
Bangunan menggunakan konstruksi pondasi permanen, dinding bata plester, rangka baja ringan, dan atap spandek.
Proses pembangunan masih terus berlangsung sebagai bagian dari tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di wilayah Aceh.
Suharyanto menyebutkan sampai sekarang BNPB telah menerima usulan pembangunan sekitar 15.000 unit huntap in situ yang berasal dari tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara (Sumut) dan Sumatera Barat (Sumbar).
Dari jumlah ini sekitar 800 hingga 900 unit rumah telah dibangun secara serentak terbagi atas hampir 400 unit telah selesai.
Pembangunan huntap dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.
Rumah yang telah rampung langsung diserahkan kepada warga penerima manfaat.
Jadi, masyarakat segera bisa menempati hunian yang lebih aman dan layak.
Kini pemerintah terus mempercepat pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi, seiring rampung pembangunan hunian sementara bagi warga terdampak bencana.
“Nanti kita bisa melihat dari Aceh Tamiang, Aceh Timur sampai ke Aceh Utara sana beberapa rumah yang sudah jadi dan ini sudah langsung begitu jadi diserahkan ke masyarakat. Supaya masyarakat terdampak melihat bahwa ya semuanya tidak bisa seketika jadi, tapi ini proses berjalan terus,” tuturnya.
Menyoal progres pembangunan hunian tetap, ujar Suharyanto, diserahkan bantuan sembako untuk memenuhi kebutuhan dasar warga setempat di titik lokasi Kualasimpang dan Peureulak Barat.
Penerima manfaat program hunian tetap in situ, Nurbayti (64) yang merupakan warga Desa Sriwijaya, Kecamatan Kota Kualasimpang, mengaku bersyukur atas bantuan pemerintah yang telah membangun kembali rumahnya yang mengalami kerusakan berat akibat banjir beberapa waktu lalu.
Setelah hampir tiga bulan menempati hunian sementara (huntara), ia segera pindah dan menempati rumah barunya dalam waktu dekat.
Hal yang sama disampaikan Muhammad Fuad (35), warga Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur.
Dia mengapresiasi percepatan pembangunan hunian tetap yang diperuntukkan bagi dirinya dan keluarga.
Rumah baru tersebut dapat menjadi tempat tinggal yang aman, nyaman, serta membawa manfaat dan keberkahan bagi keluarganya.
“Alhamdulillah ini lebih bagus ya, lebih nyaman, sebelumnya setelah bencana saya menumpang di rumah mertua setelah Huntara jadi saya di Huntara dan akan pindah ke Huntap ini kalau sudah jadi,” ujar laki-laki yang berprofesi sebagai teknisi elektronik ini.
Muhammad Fuad mengutarakan dirinya sangat terbantu dengan dukungan pemerintah melalui BNPB dalam proses pemulihan pascabencana.
Kondisi rumah ini hampir selesai dibangun, bahkan dinilai lebih baik dibandingkan rumah yang sebelumnya rusak akibat bencana.
Kehadiran hunian tetapnya menjadi harapan baru bagi keluarganya untuk kembali menjalani kehidupan secara normal setelah terdampak bencana. (adm)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.