Deddy Sitorus Curiga Parpol Koalisi Pemerintah Tak Percaya Diri dan Cari Kambing Hitam ke PDIP
JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Ketua DPP PDI Perjuangan bidang Pemenangan Pemilu Eksekutif, Deddy Yevri Sitorus menduga Parpol-Parpol anggota koalisi pemerintahan Prabowo-Gibran tidak percaya diri alias minder, sehingga ramai-ramai mempersoalkan posis…
Dengarkan Ringkasan
JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Ketua DPP PDI Perjuangan bidang Pemenangan Pemilu Eksekutif, Deddy Yevri Sitorus menduga Parpol-Parpol anggota koalisi pemerintahan Prabowo-Gibran tidak percaya diri alias minder, sehingga ramai-ramai mempersoalkan posisi politik PDI Perjuangan sebagai partai penyeimbang pemerintah.
"Saya mencermati dengan seksama pernyataan sejumlah partai politik belakangan ini yang mempersoalkan posisi PDI Perjuangan sebagai partai penyeimbang. Ada yang menyebut politik dua kaki, ada yang meminta kami tegas di dalam atau di luar pemerintahan. Saya melihat sikap partai-partai ini sungguh mengherankan dan tidak pada tempatnya," kata Deddy dalam keterangannya kepada insan pers, Minggu (21/6/2026).
Deddy Sitorus yang juga anggota Komisi II DPR RI mengungkap empat poin kritis.
Pertama, sistem ketatanegaraan Indonesia memang tidak mengenal oposisi secara formal. Yang ada adalah partai di dalam pemerintahan dan di luar pemerintahan.
"PDI Perjuangan dengan jelas telah menyatakan posisi kami di luar kabinet, tetapi tetap menjalankan fungsi pengawasan yang konstitusional melalui mekanisme DPR. Ini bukan sikap ambigu, ini adalah mandat Rakernas partai yang sudah kami jalankan secara konsisten, gitu loh," kata Deddy.
Deddy balik nanya, mengapa partai-partai ini (parpol pengkritik) begitu khawatir dengan keberadaan PDI Perjuangan? "Apakah karena kurang percaya diri? Atau ada kegalauan di internal koalisi sehingga mencari kambing hitam?" tandasnya.
Kedua, jika ada partai yang tidak nyaman dengan situasi politik saat ini, silakan keluar dari pemerintahan. Tidak perlu membuat isu aneh dan menyeret-nyeret PDI Perjuangan. Ini bukan cara berpolitik yang elegan.
Saya ingatkan, kata Deddy, di era Presiden SBY dan Jokowi, PDI Perjuangan tidak pernah mempersoalkan posisi partai manapun yang masuk atau tidak dalam kabinet.
"Kami menghormati pilihan politik masing-masing. Kenapa sekarang malah ramai-ramai partai koalisi sibuk mengurusi internal PDI Perjuangan? Ini tidak berhak dan tidak etis," tukasnya.
Ketiga, saran yang disampaikan Deddy Sitorus kepada partai-partai seperti NasDem dan Demokrat, agar fokus mengurus partainya sendiri yang sedang digerogoti. Jangan sampai nanti kalah oleh partai pendatang baru.
"Lebih baik perbaiki kinerja menteri-menteri mereka di kabinet daripada sibuk menggurui partai lain, gitu loh," la jut Deddy.
Ia mengingatkan, urusan rakyat sangat banyak dan maha penting—listrik, BBM, perburuhan, bansos, UMKM, koperasi, perkebunan, infrastruktur, pangan, ekonomi, perdagangan.
"Konsentrasilah di sana (pada persoalan rakyat). PDI Perjuangan juga ingin pemerintahan berhasil dan menyelesaikan mandatnya sesuai konstitusi," lanjutnya.
Keempat, hal penting berikutnya yang ditegaskan Deddy adalah fungsi DPR bukan hanya mendukung program pemerintah, juga menjalankan pengawasan terhadap kebijakan dan penggunaan kekuasaan.
"Jika seluruh fraksi di DPR hanya manut dan setuju terhadap eksekutif, apa bedanya dengan era Orde Baru? Apakah DPR masih dibutuhkan?" tukasnya.
Kata Deddy, rakyat ingin melihat partai-partai bekerja, bukan sibuk membuat gaduh. Pemilu masih sangat jauh. Fokuslah perbaiki mana yang kurang. Jangan cari kambing hitam untuk kegalauan kalian. Kalau mau cari kurban, ya pas lebaran kemarin.
"PDI Perjuangan tegak pada pendirian kami: menjadi penyeimbang yang konstruktif, mengkritik dengan bertanggung jawab, dan tetap mengawal agar pemerintahan berjalan sesuai konstitusi. Itu adalah amanah yang tidak akan kami tinggalkan," tuntas Deddy Sitorus.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.