Fakta Nasional

Harmoni Agama dan Budaya: Menjelajahi 7 Tradisi Unik Perayaan Iduladha di Penjuru Nusantara

FAKTANASIONAL.NET — Hari Raya Iduladha bagi umat Islam di Indonesia tidak hanya menjadi momentum sakral untuk beribadah dan menyembelih hewan kurban. Di berbagai daerah, hari besar ini juga bertransformasi menjadi perayaan kebudayaan yang kaya akan…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Jessy Serianda Editor: Redaksi 📍 Nasional Wednesday, 27 May 2026 📖 3 menit
Harmoni Agama dan Budaya: Menjelajahi 7 Tradisi Unik Perayaan Iduladha di Penjuru Nusantara
Ketua MUI Bidang Fatwa KH Asrorun Niam Sholeh saat memberikan keterangan pers terkait pandangan hukum Islam dalam kehidupan bernegara. MUI menegaskan pengadaan hewan kurban menggunakan dana APBN sah secara syariat./(Foto: Pixabay)
) -->

FAKTANASIONAL.NET — Hari Raya Iduladha bagi umat Islam di Indonesia tidak hanya menjadi momentum sakral untuk beribadah dan menyembelih hewan kurban.

Di berbagai daerah, hari besar ini juga bertransformasi menjadi perayaan kebudayaan yang kaya akan tradisi lokal warisan leluhur.

Perpaduan harmonis antara nilai-nilai teologis spiritual dengan adat istiadat setempat melahirkan beragam ritual unik.

Meski dikemas dalam bentuk dan pelaksanaan yang berbeda-beda, seluruh tradisi ini memiliki esensi yang seragam: menyampaikan pesan pengorbanan, rasa syukur, kebersamaan, serta kepedulian sosial yang mendalam.

Berikut adalah tujuh ragam tradisi khas Iduladha di Indonesia yang masih dirawat dengan kokoh oleh masyarakat hingga saat ini:

Baca Juga: Idul Adha 1447 H: Presiden Prabowo Sumbang Sapi Kurban Jumbo 1,1 Ton untuk Warga Blora

1. Tradisi Grebeg Besar (Yogyakarta dan Solo)

Perayaan Iduladha di dua kota episentrum budaya Jawa ini identik dengan kehadiran Gunungan.

  • Prosesi: Hasil bumi seperti sayur-mayur, buah-buahan, dan aneka makanan tradisional disusun membentuk kerucut raksasa.

  • Makna: Gunungan ini diarak dari Keraton menuju Masjid Gede dengan pengawalan ketat prajurit keraton. Setelah doa bersama selesai dipanjatkan, hasil bumi tersebut langsung diperebutkan dan dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol rasa syukur dan berkat dari alam.

2. Tradisi Toron dan Nyalasi (Madura)

Bagi masyarakat Pulau Madura, Iduladha memiliki magis yang mirip dengan Idulfitri melalui tradisi mudik yang disebut Toron.

  • Prosesi: Para perantau Madura dari berbagai daerah akan pulang kampung demi berkumpul bersama keluarga besar.

  • Nyalasi: Setelah berkumpul, mereka melaksanakan prosesi penyembelihan hewan kurban di halaman rumah atau masjid, yang kemudian diolah menjadi hidangan sate dan gulai kambing untuk disantap bersama tetangga sekitar.

3. Tradisi Apitan (Semarang)

Warga Semarang memiliki cara tersendiri untuk merayakan Iduladha sekaligus mensyukuri limpahan rezeki pangan melalui tradisi Apitan.

  • Prosesi: Berbagai komoditas hasil pertanian dan peternakan lokal akan diarak keliling wilayah sebelum akhirnya dibagikan secara massal kepada warga. Tradisi ini sukses menjadi ruang berkumpul yang memperkuat semangat berbagi antarsesama.

4. Tradisi Manten Sapi (Pasuruan)

Masyarakat Pasuruan, Jawa Timur, memperlakukan hewan kurban dengan cara yang sangat terhormat melalui ritual Manten Sapi (Pengantin Sapi).

  • Prosesi: Sehari sebelum disembelih, sapi-sapi kurban akan dimandikan hingga bersih, lalu dirias menggunakan kain putih, bunga, serta berbagai aksesori layaknya sepasang pengantin.

  • Makna: Sapi yang telah didandani kemudian diarak menuju tempat penjagalan sebagai bentuk penghormatan manusia terhadap hewan yang akan dikorbankan serta ekspresi syukur atas rezeki dari Allah SWT.

5. Tradisi Mepe Kasur (Banyuwangi)

Tradisi unik yang bertepatan dengan momen Iduladha ini jamak dijumpai di pemukiman suku Osing, Banyuwangi.

  • Prosesi: Warga secara serentak akan menjemur (mepe) kasur berwarna merah-hitam di halaman rumah mereka masing-masing sejak pagi hari.

  • Makna: Ritual komunal ini dipercaya sebagai simbol penolak bala agar keluarga dijauhkan dari mara bahaya, sekaligus menjadi media pemersatu yang memperkuat nilai gotong royong dan keharmonisan rumah tangga.

6. Tradisi Ngejot (Bali)

Simbiosis mutualisme dan toleransi beragama yang tinggi di Pulau Dewata tercermin kuat dalam tradisi Ngejot yang dilakukan oleh umat Muslim Bali.

  • Prosesi: Usai prosesi penyembelihan kurban selesai, daging tidak hanya dibagikan mentah, tetapi juga diolah terlebih dahulu menjadi masakan siap saji seperti sate, gulai, dan rendang.

  • Makna: Hidangan matang ini kemudian diantarkan langsung kepada tetangga dan kerabat, termasuk mereka yang beragama Hindu, sebagai simbol persaudaraan yang erat.

7. Tradisi Meugang (Aceh)

Hadir sebagai tradisi wajib di Serambi Mekah, Meugang telah mengakar kuat sejak zaman kejayaan Kesultanan Aceh.

  • Prosesi: Satu hingga dua hari menjelang hari raya, masyarakat akan menyembelih hewan ternak dalam skala besar dan memasaknya untuk dinikmati bersama seluruh anggota keluarga.

  • Makna: Tradisi ini tidak hanya sekadar makan besar, melainkan juga instrumen sosial di mana warga yang mampu diwajibkan membagikan paket daging secara cuma-cuma kepada anak yatim dan kaum dhuafa di lingkungan mereka.

Baca Juga: Mandiri Beli Sapi Kurban Iduladha 2026, Fuji Siap Ziarah ke Makam Kakak dan Ipar

Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK