Himba Dihutankan Kembali Setelah Tunggu 14 Tahun
FAKTANASIONAL.NET - Seekor orangutan bernama Himba mempunyai masa lalu yang jauh lebih panjang daripada sekadar cerita penyelamatan. Ia ditemukan ketika masih bayi dalam kondisi mengalami luka bakar serius akibat kebakaran hutan. Tahun demi tahun be…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Seekor orangutan bernama Himba mempunyai masa lalu yang jauh lebih panjang daripada sekadar cerita penyelamatan.
Ia ditemukan ketika masih bayi dalam kondisi mengalami luka bakar serius akibat kebakaran hutan.
Tahun demi tahun berlalu.
Himba tidak langsung kembali ke hutan. Ia menjalani rehabilitasi selama sekitar 14 tahun sebelum akhirnya dinilai siap dilepasliarkan.
Pada Juni 2026, Himba bersama empat orangutan lainnya—Lykke, Farida, Nett dan Semeru—dikembalikan ke hutan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Kalimantan. Pelepasliaran dilakukan Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (BOS), BKSDA Kalimantan Tengah dan sejumlah pihak terkait.
Himba ketika ditemukan masih sangat muda.
Kebakaran hutan telah membuat habitatnya rusak. Tubuhnya terkena dampak api.
Tetapi keselamatan fisik bukan satu-satunya persoalan.
Orangutan bayi membutuhkan induk untuk belajar.
Ia tidak lahir dengan kemampuan lengkap untuk menjalani kehidupan liar. Anak orangutan belajar dari induknya mengenai makanan, pohon yang aman, cara membuat sarang dan berbagai perilaku sosial.
Karena itu, menyelamatkan bayi orangutan dari kebakaran hanyalah langkah pertama.
Langkah berikutnya jauh lebih sulit: bagaimana membuatnya mampu menjadi orangutan liar.
Himba menjalani rehabilitasi bertahun-tahun.
Dalam laporan ANTARA, setelah sekitar 14 tahun menjalani proses tersebut, Himba tumbuh menjadi orangutan jantan berusia sekitar 15 tahun. Ia dinilai aktif menjelajah dan mempunyai keterampilan mencari makanan alami.
Kisah Lykke bahkan lebih panjang.
Lykke adalah orangutan betina berusia sekitar 23 tahun. Ia tiba di pusat rehabilitasi Nyaru Menteng bersama induknya ketika masih berusia sekitar satu bulan.
Ia menjalani rehabilitasi hampir 22 tahun.
Kini Lykke dikenal sebagai individu yang mandiri dan lebih banyak menghabiskan waktu di atas pohon.
Ada pula Farida, orangutan betina berusia 19 tahun dari Tumbang Samba. Ia menunjukkan kemampuan eksplorasi dan adaptasi yang baik selama masa pra-pelepasliaran.
Kelima orangutan tersebut kemudian menjalani babak baru.
Pintu kandang dibuka.
Hutan menjadi tujuan.
Tetapi secara jurnalistik, bagian paling menarik justru bukan ketika kandang dibuka.
Yang menarik adalah pertanyaan: berapa lama seekor satwa harus belajar kembali menjadi liar?
Jawabannya bisa lebih dari satu dekade.
Manusia sering menganggap rehabilitasi sebagai proses sederhana: menyelamatkan satwa, merawatnya, lalu melepasnya.
Padahal bagi satwa seperti orangutan, rehabilitasi merupakan pendidikan seumur hidup.
Pusat rehabilitasi harus menciptakan lingkungan yang memungkinkan satwa belajar kembali.
Mereka tidak cukup diberi makan.
Mereka harus memperoleh kesempatan mencari makanan.
Tidak cukup diberi pohon.
Mereka harus belajar menggunakan pohon.
Tidak cukup diberi tempat tidur.
Mereka harus belajar membuat sarang.
Dengan kata lain, rehabilitasi yang sukses pada akhirnya justru membuat manusia semakin tidak dibutuhkan.
Ketika Himba, Lykke, Farida, Nett dan Semeru kembali ke hutan, manusia berharap mereka tidak kembali lagi kepada manusia.
Itulah paradoks konservasi.
Keberhasilan bukan ketika satwa semakin dekat dengan manusia.
Keberhasilan adalah ketika satwa mampu menjauh dan hidup mandiri di habitatnya.
Himba adalah contoh ekstrem dari proses tersebut.
Seekor bayi yang pernah diselamatkan dari kebakaran membutuhkan waktu 14 tahun sebelum dianggap siap pulang.
Dan ketika akhirnya pulang, yang ditunggu bukan ucapan terima kasih.
Yang ditunggu adalah jejaknya semakin jauh masuk ke hutan. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.