Jalan di Banjarbaru Seperti Menuju Alam Roh, Ketika Kabut Asap Menutup Kota
PAGI di Banjarbaru, Rabu 19 Agustus 2026, seharusnya menjadi awal aktivitas seperti biasa. Kabut asap menutupi jarak pandang dari landasan ulin sampai liang anggang bati bati. Kendaraan bergerak, masyarakat berangkat bekerja, anak-anak menuju sekola…
Dengarkan Ringkasan
PAGI di Banjarbaru, Rabu 19 Agustus 2026, seharusnya menjadi awal aktivitas seperti biasa.
Kabut asap menutupi jarak pandang dari landasan ulin sampai liang anggang bati bati.
Kendaraan bergerak, masyarakat berangkat bekerja, anak-anak menuju sekolah, dan roda pemerintahan berjalan sebagaimana mestinya.
Namun, pemandangan yang terlihat justru berbeda. Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti hampir seluruh kawasan Kota Banjarbaru.
Dari kawasan perkantoran Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, permukiman warga di Jalan Palm, Trikora, Landasan Ulin, hingga kawasan sekitar bandara, asap terlihat menutup pandangan.
Jalan yang biasanya jelas terlihat berubah menjadi seperti lorong abu-abu. Kendaraan melaju dengan jarak pandang terbatas.
Kalau boleh berlebihan sedikit, berjalan di sejumlah jalan Banjarbaru pagi itu seperti ingin menuju alam roh.
Tentu ini bukan candaan. Justru kalimat tersebut menggambarkan betapa tidak normalnya kondisi yang sedang dihadapi masyarakat.
Kota yang seharusnya menjadi ruang untuk hidup dengan aman dan nyaman malah dipenuhi udara yang membuat warga harus berpikir dua kali sebelum keluar rumah.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah kondisi ini disebut semakin parah dibandingkan hari sebelumnya.
Kekhawatiran warga terhadap kesehatan sangat beralasan. Asap bukan sekadar persoalan pemandangan yang terganggu.
Ada udara yang dihirup setiap hari, ada anak-anak yang beraktivitas, ada orang tua, pekerja lapangan, pengendara sepeda motor, hingga masyarakat yang memiliki kondisi tubuh lebih rentan.
Karena itu, ketika warga berharap ada solusi seperti pembagian masker dan langkah perlindungan lainnya, harapan tersebut jangan dianggap sebagai permintaan kecil.
Ini adalah kebutuhan dasar ketika kualitas udara mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang diperbarui pada Senin 18 Agustus 2026 menunjukkan persoalan karhutla di Banjarbaru bukan masalah kecil.
Tercatat telah terjadi 162 kejadian karhutla dengan total lahan terbakar mencapai 945 hektare.
Angka tersebut seharusnya membuat semua pihak berhenti sejenak dan bertanya: sampai kapan masyarakat harus menghirup asap?
Kecamatan Cempaka tercatat mengalami 51 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar sekitar 142 hektare.
Sementara itu, Liang Anggang mengalami 20 kejadian, tetapi luas lahan yang terbakar telah mencapai 309 hektare.
Banjarbaru Utara mencatat 14 kejadian dengan sekitar 71 hektare lahan terbakar.
Sedangkan Banjarbaru Selatan mencatat 11 kejadian dengan luas lahan terbakar sekitar 5 hektare lebih.
Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik setiap hektare yang terbakar, ada udara yang berubah, lingkungan yang rusak, aktivitas warga yang terganggu, serta risiko yang harus ditanggung masyarakat.
Pantauan redaksi dari sejumlah unggahan media sosial, termasuk informasi dan kejadian yang beredar di Instagram Kalimantan Selatan, juga memperlihatkan kondisi jalan di Banjarbaru yang tertutup kabut asap.
Di titik inilah pemerintah tidak cukup hanya mencatat jumlah titik api dan luas lahan terbakar. Masyarakat membutuhkan tindakan yang terlihat dan terasa.
Jika asap sudah menutup jalan, maka persoalannya bukan lagi sekadar "ada kebakaran di lahan". Persoalannya sudah masuk ke ruang hidup manusia.
Jangan sampai masyarakat diminta terus berhati-hati, sementara asap terus datang setiap pagi. Jangan pula masker baru dibagikan setelah kondisi semakin buruk.
Pencegahan, pemantauan kualitas udara, informasi yang terbuka, pelayanan kesehatan, hingga penanganan titik karhutla harus berjalan beriringan.
Sebab, masyarakat bukan sekadar angka dalam laporan kebencanaan.
Mereka adalah manusia yang harus bekerja, belajar, menghidupi keluarga dan pulang dengan selamat.
Banjarbaru jangan sampai menjadi kota yang hanya indah ketika dilihat dari kejauhan, tetapi membuat warganya merasa sedang berjalan menuju alam roh ketika keluar rumah.
Karhutla bukan sekadar api yang membakar lahan. Ketika asapnya sudah masuk ke jalan, rumah, sekolah dan paru-paru masyarakat, maka yang sedang terbakar bukan hanya hutan dan lahan.
Yang sedang dipertaruhkan adalah hak masyarakat untuk menghirup udara yang layak.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.