Jokowi Pun Tak Yakin dengan Ucapannya Sendiri
FAKTANASIONAL.NET - Wacana mengenai rencana Joko Widodo untuk kembali menjadi warga biasa di Solo usai lengser dari kursi kepresidenan kini menuai sorotan tajam. Ilmuwan politik dari UIN Jakarta sekaligus pendiri Indikator Politik Indonesia, Burhanu…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Wacana mengenai rencana Joko Widodo untuk kembali menjadi warga biasa di Solo usai lengser dari kursi kepresidenan kini menuai sorotan tajam.
Ilmuwan politik dari UIN Jakarta sekaligus pendiri Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, secara blak-blakan meragukan komitmen tersebut.
Dalam berbagai diskusi, termasuk di kanal YouTube Total Politik, Burhanuddin menilai narasi "kembali ke Solo" hanyalah retorika yang bahkan diragukan oleh Jokowi sendiri.
Pandangan kritis ini juga sempat diulas kembali oleh Erizal melalui akun Facebook pribadinya pada 7 Juli 2026.
"Jangankan orang lain, Jokowi pun tidak yakin dengan omongannya sendiri." tulis Erizal.
Burhanuddin menegaskan bahwa mustahil bagi sosok dengan pengaruh sebesar Jokowi untuk sepenuhnya berhenti dari kancah politik praktis.
Burhanuddin Muhtadi membeberkan tiga alasan fundamental mengapa Jokowi diprediksi akan tetap menjadi aktor politik yang signifikan. Pertama, faktor usia yang relatif muda.
Pada usia 65 tahun, Jokowi memiliki energi dan ambisi yang jauh lebih besar dibandingkan mantan presiden lainnya seperti Susilo Bambang Yudhoyono (76) atau Megawati Soekarnoputri (79). Bagi Burhanuddin, sangat tidak mungkin Jokowi memilih menjadi penonton pasif.
Kedua, terkait instrumen partai politik. Meski tidak memiliki partai sejak awal karier nasionalnya, Jokowi kini tengah berupaya membesarkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Meskipun tantangannya besar, keterlibatan aktif ini menjadi bukti bahwa ia belum berniat gantung sepatu.
Ketiga, faktor popularitas dan suksesi. Jokowi mengakhiri masa jabatannya dengan tingkat popularitas yang tetap tinggi.
Terlebih lagi, ia berhasil mengantarkan calon yang diusungnya—termasuk putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka—menjadi Wakil Presiden. Keberhasilan ini menempatkan Jokowi dalam posisi strategis untuk tetap mengendalikan arus politik nasional.
Dengan realitas tersebut, narasi bahwa mantan Gubernur DKI Jakarta itu akan benar-benar berdiam diri di Solo dinilai sebagai pernyataan yang sulit dipercaya.
Dominasi dan intensitas keterlibatan Jokowi dalam percaturan politik nasional diprediksi masih akan berlanjut, bahkan setelah ia menanggalkan jabatannya sebagai orang nomor satu di Indonesia.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.