Fakta Nasional

Karhutla Kalbar Mengkorupsi Cahaya Siang, Langit Gelap Sebelum Petang

PUKUL 13.53 WIB seharusnya matahari masih menjadi penguasa langit. Jalanan terang, aktivitas masyarakat berjalan normal, dan siang terasa sebagaimana mestinya. Namun, pemandangan di sejumlah wilayah Kalimantan Barat justru berbeda. Langit berubah ge…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Saturday, 19 September 2026 📖 3 menit
Karhutla Kalbar Mengkorupsi Cahaya Siang, Langit Gelap Sebelum Petang
Karhutla Kalbar Mengkorupsi Cahaya Siang, Langit Gelap Sebelum Petang/(Foto: Instagram/@akakdesy2)
) -->

PUKUL 13.53 WIB seharusnya matahari masih menjadi penguasa langit. Jalanan terang, aktivitas masyarakat berjalan normal, dan siang terasa sebagaimana mestinya.

Namun, pemandangan di sejumlah wilayah Kalimantan Barat justru berbeda.

Langit berubah gelap. Cahaya matahari meredup. Suasana di luar rumah terasa seperti sore menjelang malam.

Video yang diunggah akun Instagram @akakdesy2 memperlihatkan kondisi tersebut pada pukul 13.53 WIB. Unggahan itu dilansir redaksi pada 19 September.

Kabut asap yang menyelimuti sejumlah kawasan Kalimantan Barat kembali menjadi perhatian.

Ketika asap bertemu awan tebal dan hujan, pencahayaan di siang hari memang dapat berubah drastis.

Tetapi persoalannya tidak berhenti pada langit yang gelap.

Karhutla sedang berbicara melalui asap.

++Ketika Langit Gelap, Jangan Biarkan Kepedulian Ikut Redup

Masyarakat Kalimantan Barat sudah terlalu akrab dengan cerita yang sama.

Ketika musim kering datang, kekhawatiran terhadap karhutla kembali muncul. Titik api dipantau.

Asap mulai menyebar. Jarak pandang menurun. Masyarakat mengeluh. Pemerintah bergerak.

Kemudian hujan turun.

Asap berkurang.

Perhatian pun perlahan ikut menghilang.

Siklus seperti ini tidak boleh terus dianggap sebagai bagian normal dari kehidupan di Kalimantan Barat.

Musim kemarau memang persoalan alam. Tetapi kebakaran hutan dan lahan bukan semata-mata persoalan alam.

Di dalamnya terdapat persoalan manusia, tata kelola lahan, pengawasan, pencegahan, penegakan hukum, serta tanggung jawab pemerintah dan seluruh pihak yang berkepentingan.

Karena itu, keberhasilan tidak cukup dihitung dari berapa banyak api yang berhasil dipadamkan.

Pertanyaan yang lebih penting justru: berapa banyak kebakaran yang berhasil dicegah?

Masyarakat tidak membutuhkan pemerintah hanya ketika asap sudah tebal.

Masyarakat membutuhkan pemerintah yang bekerja sebelum api membesar.

Patroli harus berjalan sebelum titik api berubah menjadi kebakaran. Pengawasan harus diperkuat di kawasan rawan.

Informasi mengenai kualitas udara harus mudah diakses. Penindakan terhadap pelanggaran harus berdasarkan bukti dan dilakukan secara konsisten.

Jika semuanya baru terlihat setelah langit berubah gelap, wajar apabila publik bertanya: di mana pencegahannya?

++Jangan Wariskan Asap kepada Generasi Berikutnya

Persoalan karhutla juga tidak boleh dipandang sebatas gangguan pemandangan.

Di balik kabut asap terdapat kehidupan manusia.

Orang tua memikirkan kesehatan anaknya. Sekolah harus mempertimbangkan aktivitas luar ruangan.

Pekerja tetap harus mencari nafkah meskipun udara sedang tidak bersahabat. Pengendara harus menghadapi jarak pandang yang menurun.

Masyarakat biasa akhirnya menjadi pihak yang menerima dampak paling langsung.

Ironisnya, mereka bukan pembuat kebijakan.

Mereka bukan pemegang kewenangan.

Mereka juga bukan pihak yang menentukan bagaimana sebuah kawasan dikelola.

Namun ketika asap datang, merekalah yang harus menghirupnya.

Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya menyampaikan bahwa penanganan terus dilakukan. Publik berhak mengetahui langkah konkretnya.

Kawasan mana yang menjadi prioritas?

Bagaimana pencegahannya?

Bagaimana pengawasannya?

Bagaimana penegakan hukumnya?

Dan yang tidak kalah penting, mengapa persoalan serupa terus muncul kembali?

Pertanyaan tersebut bukan bentuk kebencian kepada pemerintah.

Justru kontrol publik diperlukan agar penanganan bencana tidak berhenti pada rutinitas tahunan.

Kalimantan Barat membutuhkan strategi jangka panjang, bukan sekadar respons ketika asap sudah memenuhi langit.

Sebab kalau setiap tahun masyarakat kembali melihat pemandangan yang sama, maka yang harus diperiksa bukan hanya kondisi cuaca.

Sistemnya juga harus diperiksa.

Langit yang gelap pada siang hari seharusnya menjadi alarm, bukan tontonan biasa.

Jangan sampai masyarakat akhirnya terbiasa memakai masker, terbiasa melihat kabut, terbiasa mengeluhkan udara, lalu terbiasa pula menerima keadaan.

Karhutla tidak boleh menjadi tradisi tahunan.

Asap tidak boleh menjadi bagian dari “cuaca biasa”.

Dan langit Kalimantan Barat tidak semestinya harus menunggu hujan untuk kembali terlihat biru.

Pemerintah memang tidak mungkin mengendalikan seluruh faktor alam. Tetapi pencegahan, pengawasan, koordinasi, keterbukaan informasi, dan penegakan hukum merupakan ruang yang dapat diperkuat.

Maka ketika siang hari mendadak gelap, jangan hanya bertanya kapan matahari kembali terang.

Tanyakan juga kapan akar persoalan karhutla benar-benar diselesaikan.

Sebab masyarakat tidak meminta sesuatu yang berlebihan.

Mereka hanya ingin satu hal yang sangat mendasar: menghirup udara bersih di tanah tempat mereka hidup.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK