Fakta Nasional

Ketika Gunung Hendak Menjadi Pembalasan, Nabi Memilih Memaafkan

BATU-BATU berterbangan di Thaif. Tubuh Rasulullah Muhammad terluka setelah dakwah yang beliau sampaikan justru dibalas dengan penolakan dan kekerasan. Dalam keadaan demikian, manusia mungkin akan berpikir tentang pembalasan. Namun Rasulullah menunju…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Saturday, 12 September 2026 📖 3 menit
Ketika Gunung Hendak Menjadi Pembalasan, Nabi Memilih Memaafkan
Ketika Gunung Hendak Menjadi Pembalasan, Nabi Memilih Memaafkan /ilustrasi
) -->

BATU-BATU berterbangan di Thaif.

Tubuh Rasulullah Muhammad terluka setelah dakwah yang beliau sampaikan justru dibalas dengan penolakan dan kekerasan.

Dalam keadaan demikian, manusia mungkin akan berpikir tentang pembalasan.

Namun Rasulullah menunjukkan sesuatu yang jauh lebih tinggi daripada sekadar membalas sakit hati: kasih sayang.

Peristiwa Thaif menjadi salah satu episode paling menyentuh dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad.

Ketika datang ke Thaif untuk menyampaikan ajaran Islam, Nabi Muhammad tidak mendapatkan sambutan sebagaimana yang diharapkan.

Dakwah beliau ditolak. Perlakuan terhadap Rasulullah bahkan semakin keras hingga beliau dilempari batu dan mengalami luka.

Secara manusiawi, situasi tersebut sangat berat.

Seorang manusia yang disakiti tentu memiliki rasa kecewa dan terluka.

Terlebih, yang dilakukan Nabi Muhammad bukan untuk kepentingan pribadi.

Beliau datang membawa risalah, mengajak manusia mengenal dan menyembah Allah.

Namun justru ketika penderitaan mencapai titik yang berat, akhlak Rasulullah terlihat semakin agung.

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, setelah peristiwa tersebut, Malaikat Jibril datang menemui Nabi Muhammad bersama Malaikat Penjaga Gunung.

Malaikat itu menawarkan kepada Rasulullah sebuah pilihan: penduduk Thaif dapat ditimpakan dua gunung sebagai balasan atas perlakuan mereka.

Bayangkan posisi Nabi Muhammad saat itu.

Beliau baru saja disakiti. Tubuhnya terluka. Dakwahnya ditolak.

Akan tetapi, ketika kesempatan untuk membalas datang, Rasulullah tidak mengambilnya.

Beliau memilih tidak membalas.

Rasulullah justru berharap agar dari keturunan penduduk Thaif kelak lahir orang-orang yang menyembah Allah.

Keputusan tersebut bukan kelemahan.

Justru di situlah terlihat kekuatan akhlak Rasulullah.

Memaafkan ketika seseorang tidak memiliki kemampuan untuk membalas tentu berbeda dengan memaafkan ketika kesempatan untuk membalas terbuka lebar.

Nabi Muhammad berada dalam posisi yang memungkinkan pembalasan, tetapi beliau melihat sesuatu yang lebih jauh daripada kemarahan sesaat.

Beliau melihat kemungkinan masa depan.

Orang yang hari itu menolak belum tentu selamanya menolak. Mereka yang hari ini memusuhi belum tentu selamanya menjadi musuh. Generasi berikutnya mungkin saja memiliki hati yang berbeda.

Inilah salah satu pelajaran besar dari Thaif: jangan biarkan keburukan orang lain menentukan bagaimana kita memperlakukan mereka.

Pelajaran tersebut terasa semakin relevan dalam kehidupan sekarang.

Perbedaan pendapat mudah berubah menjadi permusuhan. Kritik sering dianggap sebagai penghinaan.

Perselisihan kecil berkembang menjadi dendam panjang. Bahkan di ruang digital, seseorang bisa dihukum oleh massa hanya karena satu kesalahan.

Kita hidup dalam zaman ketika membalas terasa jauh lebih mudah daripada memaafkan.

Satu komentar dibalas dengan komentar yang lebih kasar.

Satu penghinaan dibalas dengan penghinaan yang lebih tajam.

Satu kesalahan seseorang kemudian dijadikan alasan untuk menghapus seluruh kebaikannya.

Kisah Thaif mengajak manusia berhenti sejenak dari pola tersebut.

Namun memaafkan bukan berarti membenarkan kezaliman. Islam tetap mengenal keadilan, tanggung jawab, dan konsekuensi atas perbuatan.

Persoalannya adalah bagaimana hati tidak dikuasai dendam hingga kehilangan kemampuan untuk melihat manusia sebagai makhluk yang masih mungkin berubah.

Nabi Muhammad memperlihatkan bahwa dakwah bukan sekadar memenangkan orang dalam sebuah perdebatan.

Dakwah juga berarti menjaga harapan.

Ketika orang lain menutup pintu, seorang Muslim tidak selalu harus menutup pintu yang sama dengan kebencian.

Selama masih ada kemungkinan kebaikan tumbuh, harapan tidak seharusnya dimatikan.

Karena itu, kisah Malaikat Penjaga Gunung bukan sekadar cerita tentang kekuatan yang hampir digunakan untuk menghukum penduduk Thaif.

Kisah tersebut justru berbicara tentang kekuatan untuk menahan diri.

Gunung bisa saja menjadi alat pembalasan. Namun Rasulullah memilih menjadikan masa depan sebagai alasan untuk tidak membalas.

Di sinilah kemuliaan akhlak Nabi Muhammad terlihat begitu jelas.

Beliau tidak membiarkan luka mengubah kasih sayangnya. Beliau tidak menjadikan penderitaan sebagai alasan untuk menebar penderitaan baru.

Thaif akhirnya mengajarkan sebuah pertanyaan sederhana tetapi berat untuk dijawab:

Ketika kita mampu membalas orang yang menyakiti kita, apakah kita memilih pembalasan atau memberi kesempatan bagi kebaikan untuk tumbuh?

Rasulullah telah memberikan teladan.

Beliau memilih berharap.

Sebab bagi seorang pembawa risalah, kemenangan bukan selalu tentang melihat orang yang menyakiti dirinya jatuh.

Kemenangan yang lebih tinggi adalah ketika kebencian tidak berhasil menguasai hati.

Thaif bukan hanya kisah tentang batu yang melukai tubuh Rasulullah. Thaif adalah pelajaran tentang hati yang tetap memilih kasih sayang, bahkan ketika pembalasan berada di depan mata.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK